Showing posts with label Model Pembelajaran. Show all posts
thumbnail

Model Pembelajaran Complete Sentence



Pada kesempatan yang telah lewat sudah kami berikan artikel tentang model pembelajaran tari bambu, kali ini berhubung tidak ada kesibukan di rumah kami akan mencoba memberikan salah satu model pembelajaran yang mungkin sangat bagus diterapkan di sekolah.

Pengertian Model Pembelajaran Complete Sentence
Model Pembelajaran Complete Sentence merupakan rangkaian proses pembelajarann yang diawali dengan menyampaikan materi ajar oleh guru, atau dengan penganalisaan terhadap modul yang telah dipersiapkan, pembagian kelompok yang tidak boleh lebih dari tiga orang dengan kemampuan yang heterogen, pemberian lembar kerja yang berisi paragraf yang belum lengkap, lalu diberikan kesempatan kepada siswa untuk berdiskusi dan diakhiri dengan pengambilan kesimpulan.
Dengan demikian komponen penting dalam pembelajaran model ini adalah model, pembentukan kelompok secara heterogen yang maksimal 3 odang, diskusi dan pengambilan kesimpulan,

Langkah-langkah Model Pembelajaran Complete Sentence
  1. Mempersiapkan lembar kerja siswa dan modul.
  2. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
  3. Guru menyampaikan materi secukupnya atau siswa disuruh membacakan buku atau modul dengan waktu secukupnya.
  4. Guru membentuk kelompok 2 atau 3 orang secara heterogen.
  5. Guru membagikan lembar kerja yanga berupa paragraf yang kalimatnya belum lengkap.
  6. Peserta didik berdiskusi untuk melengkapi paragraf dengan kunci jawaban yang tersedia.
  7. Peserta didik berdiskusi secara berkelompok.
  8. Setelah jawaban didiskusikan, jawaban yang salah diperbaiki. Tiap peserta didik membaca sampai mengerti atau hafal.
  9. Kesimpulan.

Kelebihan Model Pembelajaran Complete Sentence
  1. Materi akan terarah dan tersaji secara benar, sebab guru terlebih dahulu menjabarkan uraian materi sebelum pembagian kelompok.
  2. Melatih siswa untuk bekerja sama dan menghargai orang lain dalam berdiskusi.
  3. Melatih siswa untuk berinteraksi secara baik dengan teman sekelasnya.
  4. Akan dapat memperdalam dan mempertajam pengetahuan siswa melalui lembar kerja yang dibagikan kepadanya, sebab mau tidak mau dia harus menghafal atau paling tidak membaca materi yang diberikan kepadanya.
  5. Dapat meningkatkan rasa tanggung jawab siswa, sebab masing-smasing siswa dimintai tanggung jawabnya atas hasil diskusi.

Kelemahan Model Pembelajaran Complete Sentence
  1. Dalam kegiatan diskusi sering hanya beberapa orang saja yang aktif.
  2. Pembicaraan dalam diskusi sering melenceng dari materi pembelajaran yang dilakukan.
  3. Adanya siswa kurang memiliki bahan dalam melaksanakan diskusi atau tidak mampu untuk menyampaikan pendapatnya dalam diskusi.

Sumber Referensi :
Istarani. 2011 Model Pembelajaran Inovatif. Medan : Media Persada.

Selamat mencoba di sekolah, dan selalu mengujungi Education Blog....Maju terus pendidikan di Indonesia
thumbnail

Model Pembelajaran Tari Bambu

 Dari sekian banyak model pembelajaran yang ada salah satu model pembelajaran yang mungkin masih jarang didengar orang adalah model pembelajaran tari bambu

Pengertian
Pembelajaran dengan model Bamboo Dancing sama dengan metode inside circle. Pembelajaran diawali dengan pengenalan topik oleh guru. Guru bisa menuliskan topik tersebut di papan tulis atau guru bisa juga mengadakan tanya jawab dengan siswa tentang apa yang mereka ketahui tentang materi tersebut.  Kegiatan sumbang saran ini dimaksudkan untuk mengaktifkan struktur kognitif yang telah dimiliki peserta didik agar lebih siap menghadapi pelajaran yang baru.

Selanjutnya guru membagi kelas menjadi dua kelompok besar (atau disesuaikan dengan keadaan-banyaknya siswa), jika dalam kelas ada 40 orang, maka tiap kelompok besar terdiri dari 20 orang. Aturlah sedemikian rupa pada tiap-tiap kelompok besar yaitu 10 orang berdiri berjajar saling berhadapan dengan 10 orang lainnya yang juga dalam posisi berdiri sejajar. Dengan demikian di dalam setiap kelompok  besar saling ber pasang-pasangan. Pasangan ini disebut pasangan awal. Bagi tugas pada setiap pasangan untuk dikerjakan atau di bahas. Pada kesempatan itu berikan waktu yang cukup keadaan siswa untuk mendiskusikan tugas yang diterima.

Usai diskusi, 20 orang dari tiap-tiap kelompok besar itu bergeser mengikuti arah jarum jam dengan cara ini setiap siswa akan mendapatkan pasangan baru untuk berbagi informasi, demikian seterusnya. Pergeseran searah jarum jam baru berhenti ketika tiap-tiap siswa kembali ke pasangan awal.
Model Pembelajaran Tari Bambu mempunyai tujuan agar siswa saling berbagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda dalam waktu singkat secara teratur, strategi ini cocok untuk materi yang membutuhkan pertukaran pengalaman pikiran dan informasi antar siswa. Meskipun namanya Tari Bambu tetapi tidak menggunakan bambu. Siswa yang berjajarlah yang di ibaratkan sebagai bambu.

Langkah-langkah Model Pembelajaran Bamboo Dancing (Tari Bambu)
1.      Penulisan topik di papan tulis atau mengadakan tanya jawab dengan siswa.
2.  Separuh kelas atau seperempat jika jumlah siswa terlalu banyak berdiri berjajar. Jika ada cukup ruang mereka bisa berjajar di depan kelas. Kemungkinan lain adalah siswa berjajar di sela-sela deretan bangku. Cara yang kedua ini akan memudahkan pembentukan kelompok karena diperlukan waktu relatif singkat.
3.     Separuh kelas lainnya berjajar dan menghadap jajaran yang pertama
4.     Dua siswa yang berpasangan dari kedua jajaran berbagi sinformasi.
5.     Kemudian satu atau dua siswa yang berdiri di ujung salah satu jajaran pindah ke ujung lainnya di jajarannya. Jajaran ini kemudian bergeser. Dengan cara ini masing-masing siswa mendapat pasangan yang baru untuk berbagi. Pergeseran bisa dilakukan terus sesuai dengan kebutuhan.

Kelebihan Model Pembelajaran Tari Bambu (
Bamboo Dancing  )
Model pembelajaran ini cocok atau baik digunakan untuk materi yang membutuhkan pertukaran pengalaman pikiran dan informasi antar peserta didik. Oleh karena itu kelebihan metode ini adalah :
1. Siswa dapat bertukar pengalaman dengan sesamanya dalam proses pembelajaran.
2.      Meningkatkan kerjasama diantara siswa
3.      Meningkatkan toleransi antara sesame siswa.

Kekurangan
Model Pembelajaran Tari Bambu ( Bamboo Dancing  )
Selain memiliki kelebihan,
Model Pembelajaran Tari Bambu (Bamboo Dancing)
) juga memiliki beberapa kekurangan, yaitu :
1.  Kelompok belajarnya terlalu gemuk sehingga menyulitkan proses belajar mengajar
2.      Siswa lebih banyak bermainnya daripada belajar
3.      Sebagian siswa saja yang aktif karena kelompoknya terlalu gemuk
4.      Interaksi pembelajaran tidak terjadi secara baik.

semoga dengan membaca artikel ini dapat menambah wawasan tentang model pembelajaran yang dapat anda gunakan di sekolah....selamat mencoba
thumbnail

Model Pembelajaran Role Playing dan Langkah-Langkahnya

1.  Pengertian Model pembelajaran Role Playing :

Role playing atau bermain peran adalah sejenis permainan gerak yang didalamnya ada tujuan, aturan dan sekaligus melibatkan unsur senang (Jill Hadfield, 1986). Dalam role playing murid dikondisikan pada situasi tertentu di luar kelas, meskipun saat itu pembelajaran terjadi di dalam kelas. Selain itu, role playing sering kali dimaksudkan sebagai suatu bentuk aktivitas dimana pembelajar membayangkan dirinya seolah-olah berada di luar kelas dan memainkan peran orang lain (Basri Syamsu, 2000).

Model Pebelajaran Role Playing adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Permainan ini pada umumnya dilakukan lebih dari satu orang, hal itu bergantung kepada apa yang diperankan.

Pada metode bermain peranan, titik tekanannya terletak pada keterlibatan emosional dan pengamatan indera ke dalam suatu situasi masalah yang secara nyata dihadapi. Murid diperlakukan sebagai subyek pembelajaran, secara aktif melakukan praktik-praktik berbahasa (bertanya dan menjawab) bersama teman-temannya pada situasi tertentu. Belajar efektif dimulai dari lingkungan yang berpusat pada diri murid (Departemen Pendidikan Nasional, 2002). Lebih lanjut prinsip pembelajaran memahami kebebasan berorganisasi, dan menghargai keputusan bersama, murid akan lebih berhasil jika mereka diberi kesempatan memainkan peran dalam bermusyawarah, melakukan pemungutan suara terbanyak dan bersikap mau menerima kekalahan sehingga dengan melakukan berbagai kegiatan tersebut dan secara aktif berpartisipasi, mereka akan lebih mudah menguasai apa yang mereka pelajari (Boediono, 2001). Jadi, dalam pembelajaran murid harus aktif, karena tanpa adanya aktivitas, maka proses pembelajaran tidak mungkin terjadi.


Model pembelajaran Role Playing juga dikenal dengan nama model pembelajaran Bermain Peran. Pengorganisasian kelas secara berkelompok, masing-masing kelompok memperagakan/menampilkan scenario yang telah disiapkan guru. Siswa diberi kebebasan berimprofisasi namun masih dalam batas-batas scenario dari guru.

2.  Langkah-Langkah Model Role Playing
Langkah-langkah pembelajarannya adalah sebagai berikut :
  1. Guru menyusun/menyiapkan skenario yang akan ditampilkan.
  2. Menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario dalam waktu beberapa hari sebelum pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar.
  3. Guru membentuk kelompok siswa yang anggotanya 5 orang.
  4. Memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai.
  5. Memanggil para siswa yang sudah ditunjuk untuk melakonkan skenario yang sudah dipersiapkan.
  6. Masing-masing siswa berada di kelompoknya sambil mengamati skenario yang sedang diperagakan.
  7. Setelah selesai ditampilkan, masing-masing siswa diberikan lembar kerja untuk membahas/memberi penilaian atas penampilan masing-masing kelompok.
  8. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya.
  9. Guru memberikan kesimpulan secara umum.
  10. Evaluasi.
  11. Penutup.

3.  Keunggulan Metode Role Playing

Keunggulan Model Role Playing
 Ada beberapa keunggulan dengan menggunakan metode role playing, di antaranya adalah:
  1. Dapat berkesan dengan kuat dan tahan lama dalam ingatan siswa. Disamping merupakan pengalaman yang menyenangkan yang sulit untuk dilupakan.
  2. Sangat menarik bagi siswa, sehingga memungkinkan kelas menjadi dinamis dan penuh antusias.
  3. Membangkitkan gairah dan semangat optimisme dalam diri siswa serta menumbuhkan rasa kebersamaan.
  4. Siswa dapat terjun langsung untuk memerankan sesuatu yang akan di bahas dalam proses belajar.
Kelemahan Metode Role Playing
Disamping memiliki keunggulan, metode role playing juga mempunyai kelemahan, di antaranya adalah :
  1. Bermain peran memakan waktu yang banyak.
  2. Siswa sering mengalami kesulitan untuk memerankan peran secara baik khususnya jika mereka tidak diarahkan atau tidak ditugasi dengan baik. Siswa perlu mengenal dengan baik apa yang akan diperankannya.
  3. Bermain peran tidak akan berjalan dengan baik jika suasana kelas tidak mendukung.
  4. Jika siswa tidak dipersiapkan dengan baik ada kemungkinan tidak akan melakukan secara sungguh-sungguh.
  5. Tidak semua materi pelajaran dapat disajikan melalui metode ini.





Baca juga info berikut ini ya, Beli property tanpa uang dan tanpa KPR dari Cipto Junaedy
thumbnail

Model Pembelajaran Snowball Throwing

 Model Pembelajaran Snowball Throwing


a.      Pengertian  model pembelajaran Snowball Throwing
Pembelajaran kooperatif tipe Snowball Throwing merupakan pembelajaran yang dapat digunakan untuk memberikan konsep pemahaman materi yang sulit kepada siswa serta dapat digunakan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan dan kemampuan siswa dalam materi tersebut.
Pada model pembelajaran Snowball Throwing siswa dibentuk menjadi beberapa kelompok yang diwakili ketua kelompok unuk mendapat tugas dari guru, kemudian masing-masing siswa membuat pertanyaan yang dibentuk seperti bola (kertas pertanyaan) lalu dilempar ke siswa lain yang masing-masing siswa menjawab pertanyaan dari bola yang diperoleh .
Model Pembelajaran Snowball Throwing melatih siswa untuk lebih tanggap menerima pesan dari orang lain, dan menyampaikan pesan tersebut kepada temannya dalam satu kelompok. Lemparan pertanyaan tidak menggunakan tongkat seperti model pembelajaran Talking Stik akan tetapi menggunakan kertas berisi pertanyaan yang diremas menjadi sebuah bola kertas lalu dilempar-lemparkan kepada siswa lain. Siswa yang mendapat bola kertas lalu membuka dan menjawab pertanyaannya.

b.      Langkah-langkah  model pembelajaran Snowball Throwing
Adapun Langkah-langkah  model pembelajaran Snowball Throwing adalah sebagi berikut :
1.      Guru menyampaikan materi yang akan disajikan.
2.      Guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi.
3.      Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada temannya.
4.      Kemudian masing-masing siswa diberikan satu lembar kertas kerja untuk menuliskan satu pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok.
5.      Kemudian kertas tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu siswa ke siswa yang lain selama + 15 menit.
6.      Setelah siswa dapat satu bola diberikan kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian.
7.      Evaluasi.
8.      Penutup.
(Suprijono, 2010:128)
c.       Kelebihan dan kekurangan  modelpembelajaran Snowball Throwing
Adapun kelebihan  model pembelajaran Snowball Throwing adalah sebagai berikut :
1.             Melatih kesiapan siswa.
2.             Saling memberikan pengetahuan.
1.             Pengetahuan tidak luas hanya berkutat pada pengetahuan sekitar siswa.
2.             Tidak efektif.


Baca juga info berikut ini ya, Beli property tanpa uang dan tanpa KPR dari Cipto Junaedy
thumbnail

Download contoh RPP Model Pembelajaran Make a Match


DOWNLOAD VERSI WORD DI SINI 


Sekolah                       :  SDN Tambak Sirang Baru Kecamatan Gambut
Mata Pelajaran            :  Pendidikan Kewarganegaraan
Kelas                           :  IV (Empat)
Semester                      :  1 (Satu)
Alokasi Waktu            :  2 x 35 menit

A.    Standar Kompetensi
2. Memahami sistem pemerintahan kabupaten, kota, dan provinsi.

B.     Kompetensi Dasar
2.1 Mengenal lembaga-lembaga dalam susunan pemerintahan kabupaten, kota, dan provinsi.

C.    Indikator
2.1.1 Menjelaskan pemerintahan kabupaten/kota.
2.1.2 Menyebutkan kewenangan pemerintah kabupaten/kota.

D.  Tujuan Pembelajaran
Melalui pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Make a Match, siswa dapat:
  • Menjelaskan pemerintahan kabupaten/kota.
  • Menyebutkan kepala daerah kabupaten/kota.
  • Menyebutkan kewenangan pemerintah kabupaten/kota.

E.     Karakter siswa yang diharapkan :        Dapat dipercaya ( Trustworthines), Rasa hormat dan perhatian ( respect ), Tekun ( diligence ), Tanggung jawab ( responsibility ) Berani (courage) dan Ketulusan ( Honesty )

F.     Materi Ajar
Pemerintahan Kabupaten/Kota
Setelah kamu memahami dan mengenal  lembaga pemerintahan desa/kelurahan dan  kecamatan, kamu akan mempelajari tentang  kabupaten/kota. Apa yang kamu ketahui tentang  kabupaten atau kotamu? Apakah wilayah  kabupaten atau kotamu sangat luas? Pada  bagian ini, akan dipelajari tentang kabupaten dan kota.  Setiap warga negara mempunyai tanda identitas diri seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP), Surat Izin Mengemudi (SIM), dan Paspor.
Dalam identitas tersebut dicantumkan nama kabupaten/kota tempat kamu dilahirkan. Misalnya, kamu lahir di Kabupaten Sleman, maka dalam identitasmu akan dicantumkan bahwa kamu lahir di Kabupaten Sleman. Kabupaten/kota merupakan gabungan dari  beberapa kecamatan yang ada di sekitarnya. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dipimpin oleh seorang bupati. Pemerintah Kota (Pemkot) dipimpin oleh seorang walikota. Kabupaten/kota merupakan daerah bagian langsung dari provinsi. Kabupaten/kota dipimpin oleh bupati/walikota  yang dibantu oleh seorang wakil bupati/wakil walikota dan perangkat daerah lainnya.  Dalam menyelenggarakan pemerintahan, setiap kabupaten/kota dibekali dengan hak dan kewajiban tertentu.  Apa yang kamu ketahui tentang hak suatu daerah? Mari, kita perhatikan hak-hak daerah tersebut berikut ini.
a.  Mengatur dan mengurusi sendiri urusan pemerintahannya.
b.  Memilih pemimpin daerah.
c.  Mengelola pegawai daerah.
d.  Mendapatkan sumber-sumber pendapatan lain yang sah.
e.  Mendapatkan hak lainnya yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.
Pada dasarnya selain memiliki hak terdapat pula kewajiban yang harus dijalankan. Di samping hak-hak tersebut, daerah juga dibebani beberapa kewajiban yang harus dilakukan, antara lain sebagai berikut.
a.  Menyediakan sarana sosial dan sarana umum yang layak.
b.  Mengembangkan sistem jaminan sosial.
c.  Menyusun perencanaan dan tata ruang pada daerah yang bersangkutan.
d.  Melestarikan lingkungan hidup.
Membentuk dan menerapkan berbagai peraturan perundang-undangan yang sesuai dengan kewenangannya.

G.    Model dan Metode Pembelajaran
2.      Metode : tanya jawab, ceramah, penugasan.

SELENGKAPNYA .......
DOWNLOAD VERSI WORD DI SINI

Baca juga info berikut ini ya, Beli property tanpa uang dan tanpa KPR dari Cipto Junaedy
thumbnail

GEBYAR TIK 2012 (BTIKP KALSEL)


Perkembangan teknologi yang sedemikian pesat, memberi kesempatan kepada kita untuk memanfaatkannya sebaik-baiknya.  Banyak kemajuan dalam teknologi informasi untuk dunia pendidikan yang dapat menjadi pendukung dalam belajar-mengajar.  Atas dasar tersebutlah diadakan Gebyar TIK, kegiatan tahunan yang merupakan rangkaian dari beberapa Lomba (Website, Blog dan Media Pembelajaran) serta Seminar  

MAKSUD DAN TUJUAN

Maksud :
Gebyar TIK diselenggarakan sebagai bentuk apresiasi dan penghargaan kepada SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK yang berdedikasi memajukan pendidikan di Kalimantan Selatan dengan mengembangkan dan memanfaatkan TIK untuk pendidikan  

Tujuan :
  • Mendorong dan meningkatkan pengembangan dan pemanfaatan TIK di sekolah sebagai sumber, sarana, maupun penunjang dalam belajar-mengajar
  • Meningkatkan potensi guru dalam pengembangan dan pemanfaatan TIK untuk pendidikan
  • Mengembangkan metode belajar-mengajar yang efektif dan efisien
  • Menumbuhkan kesadaran pendayagunaan teknologi yang tepat-guna

SASARAN/PESERTA LOMBA

Sasaran dari kegiatan ini adalah guru dari SD/MI, SMP/MTS, dan SMA/MA/SMK se-Kalimantan Selatan  

MEKANISME PELAKSANAAN
Mekanisme pelaksanaan lomba meliputi empat tahapan yaitu :
Tahap 1 : Pendaftaran
Dilakukan dengan melengkapi ketentuan dan persyaratan yang berlaku
Tahap 2 : Penyisihan
Penyisihan melibatkan Tim Juri Lokal yang akan menentukan 51 besar untuk Lomba Web dan Blog serta 39 besar untuk Lomba Media Pembelajaran.
Tahap 3 : Semifinal
Tim Juri Pusat akan menentukan 9 finalis Lomba Web, 12 finalis Lomba Blog dan masing-masing 5 finalis dari tiga jenjang (SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK) Lomba Media Pembelajaran
Tahap 4 : Final
Finalis akan mempresentasikan hasil karya untuk menentukan pemenang

KETENTUAN DAN PERSYARATAN
Ketentuan Pendaftaran :
1. Melengkapi formulir yang sudah terisi tertanda Kepala Sekolah.  Pendaftaran dapat dilakukan melalui :
Balai Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (BTIKP) Provinsi Kalimantan Selatan d.a. Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Selatan Jl. Letjend. S. Parman No.44 Banjarmasin 70114 Telepon : 0511-3362484-3362485 Faksimile : 0511-3362484

2. Melampirkan alamat URL Web atau Blog yang sudah online, atau file/data untuk media pembelajaran
3. Menyerahkan Deskripsi Hasil Karya untuk Lomba Web dan Blog, serta RPP untuk Lomba Media Pembelajaran

Ketentuan Peserta
1. Tercatat aktif sebagai guru dari sekolah bersangkutan pada tahun diselenggarakannya lomba ini
2. Peserta boleh mengikuti lebih dari satu lomba

Ketentuan Hasil Karya :
  1. Web Sekolah adalah Website yang dikelola oleh sekolah dan berisi informasi mengenai sekolah serta memiliki layanan penunjang pendidikan (elearning) di dalamnya, Blog Guru adalah Blog yang dikelola secara pribadi oleh guru dan menjadi media ajar antara guru dengan kelasnya, sedangkan Media Pembelajaran adalah pengaplikasian materi/bahan ajar dalam sebuah media pembelajaran berbasis TIK seperti Macromedia/Adobe Flash, Microsoft Powerpoint, dan lainnya
  2. Deskripsi Hasil Karya adalah karya tulis yang merangkum konsep dan tujuan dari pengembangan karya, sedangkan RPP adalah Rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam silabus.  Deskripsi Hasil Karya disertakan pada Lomba Web dan Blog, sedangkan RPP disertakan pada lomba Media Pembelajaran
  3. Menampilkan logo dan/atau gambar yang mewakili sekolah/pembuat.
  4. Menampilkan link/tautan ke http://btikp.org, http://sips.btikp.org, http://rumahbanjar.org
  1. Makalah/RPP (15%)
  • Materi (Materi tentang hasil karya ditulis terperinci dan mendalam, Kelengkapan/penunjang materi berupa data dan multimedia) (10%)
  • Penulisan (Format dan Gaya Bahasa Penulisan Baku, Ditulis secara sistematis dan mudah dipahami) (5)
2. Presentasi (20%)
  • Materi (Materi dipaparkan secara terperinci dan mendalam, Ketercapaian Pemahaman Audiens) (10%)
  • Metode (Pemaparan disampaikan secara sistematis dan efektif, Pengelolaan Kelas, Etika (Kerapian Berpakaian, Cara Berbicara, Merespon, Duduk, Berdiri, Berjalan, dll)) (10%)
3. Hasil Karya (65%)
WEB DAN BLOG
  • Sistem (Pemrograman dan Basis Data, Disain Komunikasi Audio/Visual, Penamaan URL) (10%)
  • Materi (Tersedianya fitur layanan pendidikan, Ragam materi terkait Pendidikan, Kualitas dan Kedalaman serta Kemutakhiran Materi, Kuantitas dan Kualitas Komentar, Motivasi untuk Belajar dan Memanfaatkan TIK dalam Pendidikan) (30%)
  • Dukungan (Pengumuman/Agenda, Buku Tamu/Kotak Email/Chat, Galeri Foto/Video, Mesin Pencari, Dokumen Unduhan, Polling, Forum, Modul/Widget Penunjang lainnya) (10%)
  • Keseluruhan (Popularitas (Google Index), Kemasan (Komunikatif, Mudah dipahami dan Kreatif dalam Penyajian)) (15%)
MEDIA PEMBELAJARAN
  • Sistem (Basis Aplikasi, Disain Komunikasi Audio/Visual, Interaktifitas) (10%)
  • Materi (Tingkat Kebutuhan Pengguna terhadap karya (Pemilihan Materi), Konten Multimedia, Kualitas dan Kedalaman serta Kemutakhiran Materi, Relevansi antara materi dan judul serta mata pelajaran yang diampu) (30%)
  • Dukungan (Evaluasi/Latihan, Ilustrasi/Simulasi, Fitur Penunjang lainnya) (10%)
  • Keseluruhan (Dokumentasi & Kelengkapan (Manual Pemakaian, plugin dan Kelengkapan lainnya), Kemasan (Komunikatif, Mudah dipahami dan Kreatif dalam Penyajian), Efektifitas dan Efisiensi Pemanfaatan Aplikasi) (15%)
HADIAH DAN PENGHARGAAN
Pemenang akan diberikan piagam dan/atau sertifikat serta uang pembinaan*
Lomba Web dan Blog**                      Lomba Media Pembelajaran**
Juara I        : Rp. 4.500.000,-              Juara I      : Rp. 4.000.000,-
Juara II       : Rp. 3.500.000,-              Juara II     : Rp. 3.000.000,-
Juara III      : Rp.2.500.000,-               Juara III    : Rp. 2.000.000,-
Harapan I   : Rp.1.500.000,-               Harapan I  : Rp.1.000.000,-
Harapan II  : Rp.1.000.000,-               Harapan II : Rp. 500.000,-
Harapan III : Rp. 500.000,-

*90 Semifinalis masing-masing lomba turut mendapatkan sertifikat
** Penentuan pemenang Lomba Web dan Blog diklasifikasikan tanpa jenjang, sedangkan untuk Lomba Media Pembelajaran, pemenang akan diklasifikasikan dalam tiga jenjang yaitu SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA/SMK  

JADWAL LOMBA
Pendaftaran   : 1 Juni - 6 September 2012
Pelaksanaan  : 17 - 18 September 2012  

KONTAK PERSON
  • Nikko (085752608250)
  • Rina (081348186666)
  • Deny (087814000160)

thumbnail

Model Pembelajaran Talking Stick

Model Pembelajaran Talking Stick
a. Pengertian Model Pembelajaran Talking Stick
Model pembelajaran Talking Stik adalah suatu model pembelajaran kelompok dengan bantuan tongkat, kelompok yang memegang tongkat terlebih dahulu wajib menjawab pertanyaan dari guru setelah siswa mempelajari materi pokoknya, selanjutnya kegiatan tersebut diulang terus-menerus sampai semua kelompok mendapat giliran untuk menjawab pertanyaan dari guru.
Dalam penerapan model pembelajaran Kooperatif Tipe Talking Stik ini, guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok dengan anggota 5 atau 6 orang yang heterogen. Kelompok dibentuk dengan mempertimbangkan keakraban, persahabatan atau minat, yang dalam topik selanjutnya menyiapkan dan mempersentasekan laporannya kepada seluruh kelas.
(http://jamaluddink1.blogspot.com/2011/07/model-pembelajaran-kooperatif-tipe.html)
b. Langkah-langkah Model Pembelajaran Talking Stick
Adapun Langkah-langkah Model Pembelajaran Talking Stick adalah sebagi berikut :
1) Guru menyiapkan sebuah tongkat yang panjangnya 20 cm.
2) Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari,kemudian memberikan kesempatan para kelompok untuk membaca dan mempelajari materi pelajaran.
3) Siswa berdiskusi membahas masalah yang terdapat di dalam wacana.
4) Setelah siswa selesai membaca materi pelajaran dan mempelajari isinya, guru mempersilahkan siswa untuk menutup isi bacaan.
5) Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada salah satu siswa, setelah itu guru memberikan pertanyaan dan siswa yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya, demikian sampai sebagian besar siswa mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru.
6) Guru memberikan kesimpulan.
7) Guru memberikan evaluasi/penilaian.
8) Guru menutup pembelajaran.
c. Kelebihan dan kekurangan Model pembelajaran Talking Stick
Adapun kelebihan model pembelajaran Talking Stick adalah sebagai berikut :
1) Menguji kesiapan siswa.
2) Melatih membaca dan memahami dengan cepat.
3) Agar lebih giat dalam belajar.
Sedangkan kekurangannya model pembelajaran Talking Stick adalah sebagai berikut :
1) Membuat siswa senam jantung.

Baca juga info berikut ini ya, Beli property tanpa uang dan tanpa KPR dari Cipto Junaedy
thumbnail

MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING

Solusi Tepat Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa di Sekolah Dasar
Oleh: Ferdy H. Pantar
http://sarkomkar.blogspot.com/2009/02/model-pembelajaran-quantum-teaching.html

A. Latar Belakang
Pendidikan di Indonesia sekarang ini dapat diibaratkan seperti mobil tua yang mesinnya rewel dan sedang melintasi jalur lalu lintas di jalan bebas hambatan. Betapa tidak, pada satu sisi dunia pendidikan di Indonesia saat ini dirundung masalah yang besar dan pada sisi lain tantangan menghadapi milenium ketiga semakin besar. Dari aspek kualitas, pendidikan kita memang sungguh sangat memprihatinkan dibandingkan dengan kualitas pendidikan bangsa lain.
Dari segi pengajaran, hasil-hasil pengajaran dan pembelajaran berbagai bidang studi (khususnya bidang studi Sains) di Sekolah Dasar terbukti selalu kurang memuaskan berbagai pihak khususnya para siswa. Hal tersebut disebabkan oleh tiga hal. Pertama, proses/hasil kerja lembaga pendidikan tidak cocok/pas dengan kenyataan kehidupan yang diarungi oleh siswa. Kedua, pandangan-pandangan dan temuan-temuan kajian (yang baru) dari berbagai bidang tentang pembelajaran dan pengajaran tidak cocok lagi. Ketiga, berbagai permasalahan dan kenyataan negatif tentang hasil pengajaran dan pembelajaran di sekolah.
Atas dasar itu, tidak mengherankan dalam beberapa tahun terakhir ini di Indonesia muncul berbagai falsafah dan metodologi pembelajaran yang dipandang baru meskipun sebenarnya sudah ada sebelumnya. Beberapa di antaranya adalah pembelajaran konstruktivis, pembelajaran kooperatif, pembelajaran terpadu, pembelajaran aktif, pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning, CTL), pembelajaran berbasis projek (project based learning), pembelajaran berbasis masalah (problem based learning), pembelajaran interaksi dinamis, dan pembelajaran kuantum (quantum learning).
Dibandingkan dengan falsafah dan metodologi pembelajaran lainnya, falsafah dan metodologi pembelajaran kuantum yang disebut terakhir tampak relatif lebih populer dan lebih banyak disambut gembira oleh pelbagai kalangan di Indonesia melalui seminar, pelatihan, dan penerapan tentangnya. Walaupun demikian, masih banyak pihak yang mengenali pembelajaran kuantum secara terbatas – terutama terbatas pada bangun (konstruks) utamanya. Segi-segi kesejarahan, akar pandangan, dan keterbatasannya belum banyak dibahas orang. Ini berakibat belum dikenalinya pembelajaran kuantum secara utuh dan lengkap.
B. Model Pembelajaran Quantum Teaching
1. Sejarah Munculnya
Model pembelajaran Quantum Teaching muncul di Super Comp, sebuah program percepatan Quantum Learning yang ditawarkan Learning Forum. Learning Forum adalah sebuah perusahaan pendidikan internasional yang menekankan perkembangan keterampilan akademis dan keterampilan pribadi (De Porter, 1992). Selama dua belas hari (menginap), siswa-siswa mulai usia 9 tahun sampai 24 tahun memperoleh kiat-kiat yang membantu mereka dalam mencatat, menghafal, membaca cepat, menulis, berkreatifitas, berkomunikasi dan membina hubungan serta kiat-kiat yang meningkatkan kemampuan mereka menguasai hal-hal dalam kehidupan. Hasilnya menunjukkan bahwa murid-murid yang mengikuti Super Comp mendapatkan nilai yang lebih baik, lebih banyak berpartisipasi, dan lebih bangga akan diri mereka sendiri (Vos Groenendal).
2. Asas Utama Metologi Quantun Teaching
Quantun Teaching bersandar pada konsep ini; “bawalah dunia mereka ke dunia kita dan antarkan dunia kita ke dunia mereka”. Artinya bahwa pentingnya bagi seorang guru memasuki dunia murid sebagai langkah pertama. Alasannya adalah karena tindakan ini akan memberikan ijin untuk memimpin, menuntun, dan memudahkan perjalanan siswa menuju kesabaran dan ilmu pengetahuan yang lebih luas. Caranya, dengan mengaitkan apa yang guru ajarkan dengan sebuah peristiwa, pikiran, atau perasaan yang diperoleh dari kehidupan rumah, social, atletik, musik, seni, rekreasi atau akademis mereka. Setelah kaitan ini terbentuk, guru dapat membawa mereka kedalam dunianya serta memberi pemahaman akan isi dunia itu. Sehingga siswa dapat membawa apa yang mereka pelajari ke dalam dunianya dan mnerapkannya pada situasi baru.
3. Prinsip-prinsip Quantun Teaching
Quantun Teaching memiliki lima prinsip atau kebenaran tetap;
a) Segalanya berbicara
b) Segalanya dari lingkungan kelas hingga bahasa tubuh, kertas yang guru bagikan hingga rancangan pelajaran, semua mengirim pesan tentang pelajaran.
c) Segalanya bertujuan
d) Pengalaman sebelum pemberian nama
e) Proses belajar paling efektif terjadi ketika siswa telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama untuk apa yang mereka pelajari.
f) Akui setiap usaha
g) Setiap mengambil langkah, siswa patut mendapat pengakuan atas kecakapan dan kepercayaan diri mereka.
h) Jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan
C. Efektifitas Quantum Teaching Dalam Pembelajaran
Quantun Teaching mencakup petunjuk spesifik untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif, merancang kurikulum, menyampaikan isi dan memudahkan proses belajar. Cara-cara belajar dalam Quantun Teaching dapat meningkatkan;
1) Partisipasi dengan menggubah (mengorkestrasi) keadaan
2) Motivasi dan minat dengan menerapkan kerangka rancangan (TANDUR)
3) Rasa kebersamaan dengan menggunakan delapan kunci keunggulan
4) Daya ingat dengan menggunakan SLIM-n-BILL
5) Daya dengan anak didik anda dengan mengikuti prinsip-prinsip komunikasi AMPUH
6) Kehalusan transisi dengan MPT
Masih banyak strategi lain yang akan dapat menempatkan guru dan siswa pada jalur cepat dan semua itu menuju kesuksesan belajar. Prinsip-prinsip ini mempengaruhi seluruh aspek Quantun Teaching yang dianggap sebagai struktur chord dasar dan simponi belajar, sekaligus menjadi infrastruktur bagi model pembelajaran guru.
D. Kesimpulan
Dari uraian tentang Quantun Teaching diatas, dapat diambil beberapa kesimpulan, sebagai berikut;
1) Dalam pembelajaran Quantun Teaching akan dikenalkan cara-cara baru yang memudahkan proses belajar lewat pemaduan unsur seni dan pencapaian-pencapaian yang terarah.
2) Dalam Quantun Teaching berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas, interaksi yang mendirikan landasan dan kerangka untuk belajar. Dengan penciptaan lingkungan kelas yang menyenangkan, siswa akan memperoleh suatu penguat (reinforcer) dan akan mampu membangkitkan motivasi siswa dalam belajar.
3) Dalam pembelajaran Quantun Teaching, murid akan lebih banyak berpartisipasi dan merasa lebih bangga akan diri mereka sendiri.
4) Penerapan pembelajaran Quantun Teaching akan menjadikan interaksi-interaksi yang menggubah kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi cahaya yang akan bermanfaat bagi mereka dan orang lain.
5) Model pembelajaran Quantun Teaching akan menyingkirkan hambatan-hambatan yang menghalangi proses belajar dengan secara sengaja menggunakan musik, mewarnai lingkungan sekeliling, menyusun bahan pengajaran yang sesuai, dan mengembalikan proses belajar ke keadaan mudah dan alami.
6) Di dalam Quantun Teaching, proses belajar siswa dimulai/beranjak dari informasi atau sesuatu yang telah ada atau diketahui siswa sebelum mereka memperoleh nama untuk apa mereka peajari.
E. Penutup
Proses belajar mengajar adalah fenomena yang kompleks. Segala sesuatunya berarti setiap kata, pikiran, tindakan, dan asosiasi dan sampai sejauh mana kita menggubah lingkungan, presentasi dan system pengajaran, sejauh itu pula proses belajar berlangsung. Quantum Teaching adalah penggubahan belajar yang meriah dengan segala nuansanya. Quantum Teaching berfokus pada hubungan dinamis dalam linkungan kelas, interaksi yang mendirikan landasan dan kerangka untuk belajar. Asas utama Quantum Teaching bersandar pada konsep; Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka. Artinya bahwa pentingnya seorang guru untuk masuk ke dunia siswa sebagai langkah pertama dalam proses pembelajaran.
Penulis merasa yakin bahwa landasan teori metode ini sangat cocok untuk diterapkan dalam proses pembelajaran di SD. Lingkungan yang mendukung dan proses pembelejaran yang menyenangkan dan menggairahkan dapat menciptakan serta meningkatkan motivasi siswa SD untuk belajar. Sehingga keluhan-keluhan seperti bosan, jenuh, kurang bergairah dan tidak menarik yang selama ini sering didengungkan dari siswa dalam proses pembelajaran di sekolah dapat teratasi melalui metode ini. Semoga bermanfaat…
* * *
Daftar Sumber:
Abror, A.R. 1989. Psikologi Pendidikan.Yogyakarta: PT. Tiara Wacana
Akbar, Reni dan Hawadi. 2001. Psikologi Perkembangan Anak. Jakarta: PT. Grasindo
De Porter, B. Reardon, M. Dan Siregar, N.S. 2000. Quantum Teaching. Bandung: Penerbit Kaifa
De Porter, Micke hernaki. 1992. Quantum Learning. Bandung: Penerbit
KaifaSlamento. 1995. Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT. Rineka Cipta

Baca juga info berikut ini ya, Beli property tanpa uang dan tanpa KPR dari Cipto Junaedy
thumbnail

Pembelajaran kooperatif model TGT (Team Game Tournament)

Pembelajaran kooperatif model TGT (Team Game Tournament)

Pembelajaran kooperatif model TGT (Team Game Tournament) adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement. Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar.

Model pembelajaran kooperatif mempunyai banyak sekali variasi. Salah satu di antaranya adalah model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournaments) Menurut Saco (2006), dalam TGT siswa memainkan permainan-permainan dengan anggota-anggota tim lain untuk memperoleh skor bagi tim mereka masing-masing. Permainan dapat disusun guru dalam bentuk kuis berupa pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan materi pelajaran. Kadang-kadang dapat juga diselingi dengan pertanyaan yang berkaitan dengan kelompok (identitas kelompok mereka).

Permainan dalam TGT dapat berupa pertanyaan-pertanyaan yang ditulis pada kartu-kartu yang diberi angka. Tiap siswa, misalnya, akan mengambil sebuah kartu yang diberi angka tadi dan berusaha untuk menjawab pertanyaan yang sesuai dengan angka tersebut. Turnamen harus memungkinkan semua siswa dari semua tingkat kemampuan (kepandaian) untuk menyumbangkan poin bagi kelompoknya. Prinsipnya, soal sulit untuk anak pintar, dan soal yang lebih mudah untuk anak yang kurang pintar. Hal ini dimaksudkan agar semua anak mempunyai kemungkinan memberi skor bagi kelompoknya. Permainan yang dikemas dalam bentuk turnamen ini dapat berperan sebagai penilaian alternatif atau dapat pula sebagai reviu materi pembelajaran.

Edi Prayitno (2006: 7-8) mengemukakan bahwa dalam team games tournaments (TGT) setiap tim beranggotakan 4-5 orang yang memiliki kemampuan yang setara atas dasar hasil tes minggu sebelumnya. Siswa yang berprestasi paling rendah pada tiap kelompok mempunyai peluang yang sama untuk memperoleh poin bagi timnya sebagai siswa yang berprestasi tinggi. Meskipun keanggotaan tim tetap sama, tetapi tiga orang yang mewakili tim untuk bertanding dapat berubah berdasarkan penampilan dan prestasi masing-masing anggota. Sebagai contoh siswa yang berprestasi rendah yang sebelumnya bertanding melawan siswa yang kemampuannya setara dapat bertanding melawan siswa yang berprestasi lebih tinggi ketika mereka menjadi lebih mampu. Slavin (1995:84-86) mengatakan bahwa komponen-komponen dalam TGT perlu memperhatikan:

a. Presentasi Kelas
Dalam presentasi kelas siswa diperkenalkan dengan materi pembelajaran yang diberikan secara langsung oleh guru atau didiskusikan dalam kelas dengan guru sebagai fasilitator. Pembelajaran mengacu pada apa yang disampaikan guru agar kelak dapat membantu siswa dalam mengikuti team games turnaments.

b. Kelompok (Team)
Kelompok terdiri dari empat sampai lima orang yang hiterogen. Tujuan utama pembentukan kelompok adalah untuk meyakinkan siswa bahwa semua anggota kelompok belajar dan semua anggota mempersiapkan diri untuk mengikuti game dan turnamen dengan sebaik-baiknya. Diharapkan setiap anggota kelompok melakukan hal yang terbaik untuk kelompoknya

c. Permainan ( Games )
Permainan dibuat dengan isi pertanyaan-pertanyaan untuk mengetes pengetahuan siswa yang didapat dari presentasi kelas dan latihan kelompok. Game dimainkan dengan meja yang berisi tiga siswa yang diwakili kelompok berbeda. Siswa mengambil kartu yang bernomor dan berusaha untuk menjawab pertanyaan sesuai dengan nomor. Aturannya membolehkan pemain untuk menantang jawaban yang lain

d. Kompetisi (Turnamen)
Kompetisi merupakan bentuk permainan langsung. Umumnya diselenggarakan pada akhir minggu setelah guru membuat presentasi kelas dan kelompok-kelompok mempraktikkan tugas-tugasnya. Untuk turnamen pertama guru memberikan siswa permainan-permainan meja tiga siswa-siswa dengan kemampuan tertinggi di meja 1, meja 2 dan setrusnya. Kompetisi ini merupakan system penilaian kemampuan perorangan dalam STAD, memungkinkan bagi siswa dari semua level di penampilan sebelumnya untuk mengoptimalkan nilai kelompok mereka menjadi yang terbaik

e. Penghargaan kelompok (Team recognize)
Guru kemudian mengumumkan kelompok yang menang, masing-masing team akan mendapat sertifikat atau hadiah apabila rata-rata skor memenuhi kriteria yang ditentukan. Team mendapat julukan “Super Team” jika rata-rata skor 45 atau lebih, “Great Team” apabila rata-rata mencapai 40-45 dan “Good Team” apabila rata-ratanya 30-40

Dari beberapa pendapat di atas dapat dikemukakan bahwa langkah-langkah dalam model pembelajaran kooperatif TGT adalah sebagai berikut:

1. Kelompok (Team)

* Membentuk kelompok yang terdiri dari 4 sampai 5 orang siswa yang anggotanya heterogen
* Memberitahu siswa tentang tugas yang harus dikerjakan oleh anggota kelompok.

2. Presentasi Kelas (Class Presentation)

* Menyampaiakan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai
* Menghimbau siswa bahwa materi yang disampaikan akan berguna pada saat game dan menentukan skor kelompok.
* Menyampaikan/mempresentasikan materi pelajaran di dalam kelas,

3. Permainan (Games)

* Memberikan game dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji pengetahuan yang didapat siswa dari penyajian materi.
* Memberikan game dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan dalam bentuk kartu indek
* Memberikan dan mengumpulkan skor kepada siswa yang menjawab benar.

4. Kompetisi (Turnamen)

* Membagi siswa ke dalam beberapa meja turnamen. Tiga siswa tertinggi prestasinya pada meja I, tiga siswa selanjutnya pada meja II dan seterusnya.
* Mengkoordinasikan jalannya turnamen dengan prosedur pelaksanaan.

5. Penghargaan (Team recognize)

* Mengumumkan hasil penilaian dari pengumpulan skor turnamen.
* Memberikan penghargaan terhadap usaha-usaha yang telah dilakukan oleh individu maupun oleh kelompok.

Baca juga info berikut ini ya, Beli property tanpa uang dan tanpa KPR dari Cipto Junaedy