Showing posts with label Pembelajaran dan metode. Show all posts
thumbnail

MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING

Solusi Tepat Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa di Sekolah Dasar
Oleh: Ferdy H. Pantar
http://sarkomkar.blogspot.com/2009/02/model-pembelajaran-quantum-teaching.html

A. Latar Belakang
Pendidikan di Indonesia sekarang ini dapat diibaratkan seperti mobil tua yang mesinnya rewel dan sedang melintasi jalur lalu lintas di jalan bebas hambatan. Betapa tidak, pada satu sisi dunia pendidikan di Indonesia saat ini dirundung masalah yang besar dan pada sisi lain tantangan menghadapi milenium ketiga semakin besar. Dari aspek kualitas, pendidikan kita memang sungguh sangat memprihatinkan dibandingkan dengan kualitas pendidikan bangsa lain.
Dari segi pengajaran, hasil-hasil pengajaran dan pembelajaran berbagai bidang studi (khususnya bidang studi Sains) di Sekolah Dasar terbukti selalu kurang memuaskan berbagai pihak khususnya para siswa. Hal tersebut disebabkan oleh tiga hal. Pertama, proses/hasil kerja lembaga pendidikan tidak cocok/pas dengan kenyataan kehidupan yang diarungi oleh siswa. Kedua, pandangan-pandangan dan temuan-temuan kajian (yang baru) dari berbagai bidang tentang pembelajaran dan pengajaran tidak cocok lagi. Ketiga, berbagai permasalahan dan kenyataan negatif tentang hasil pengajaran dan pembelajaran di sekolah.
Atas dasar itu, tidak mengherankan dalam beberapa tahun terakhir ini di Indonesia muncul berbagai falsafah dan metodologi pembelajaran yang dipandang baru meskipun sebenarnya sudah ada sebelumnya. Beberapa di antaranya adalah pembelajaran konstruktivis, pembelajaran kooperatif, pembelajaran terpadu, pembelajaran aktif, pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning, CTL), pembelajaran berbasis projek (project based learning), pembelajaran berbasis masalah (problem based learning), pembelajaran interaksi dinamis, dan pembelajaran kuantum (quantum learning).
Dibandingkan dengan falsafah dan metodologi pembelajaran lainnya, falsafah dan metodologi pembelajaran kuantum yang disebut terakhir tampak relatif lebih populer dan lebih banyak disambut gembira oleh pelbagai kalangan di Indonesia melalui seminar, pelatihan, dan penerapan tentangnya. Walaupun demikian, masih banyak pihak yang mengenali pembelajaran kuantum secara terbatas – terutama terbatas pada bangun (konstruks) utamanya. Segi-segi kesejarahan, akar pandangan, dan keterbatasannya belum banyak dibahas orang. Ini berakibat belum dikenalinya pembelajaran kuantum secara utuh dan lengkap.
B. Model Pembelajaran Quantum Teaching
1. Sejarah Munculnya
Model pembelajaran Quantum Teaching muncul di Super Comp, sebuah program percepatan Quantum Learning yang ditawarkan Learning Forum. Learning Forum adalah sebuah perusahaan pendidikan internasional yang menekankan perkembangan keterampilan akademis dan keterampilan pribadi (De Porter, 1992). Selama dua belas hari (menginap), siswa-siswa mulai usia 9 tahun sampai 24 tahun memperoleh kiat-kiat yang membantu mereka dalam mencatat, menghafal, membaca cepat, menulis, berkreatifitas, berkomunikasi dan membina hubungan serta kiat-kiat yang meningkatkan kemampuan mereka menguasai hal-hal dalam kehidupan. Hasilnya menunjukkan bahwa murid-murid yang mengikuti Super Comp mendapatkan nilai yang lebih baik, lebih banyak berpartisipasi, dan lebih bangga akan diri mereka sendiri (Vos Groenendal).
2. Asas Utama Metologi Quantun Teaching
Quantun Teaching bersandar pada konsep ini; “bawalah dunia mereka ke dunia kita dan antarkan dunia kita ke dunia mereka”. Artinya bahwa pentingnya bagi seorang guru memasuki dunia murid sebagai langkah pertama. Alasannya adalah karena tindakan ini akan memberikan ijin untuk memimpin, menuntun, dan memudahkan perjalanan siswa menuju kesabaran dan ilmu pengetahuan yang lebih luas. Caranya, dengan mengaitkan apa yang guru ajarkan dengan sebuah peristiwa, pikiran, atau perasaan yang diperoleh dari kehidupan rumah, social, atletik, musik, seni, rekreasi atau akademis mereka. Setelah kaitan ini terbentuk, guru dapat membawa mereka kedalam dunianya serta memberi pemahaman akan isi dunia itu. Sehingga siswa dapat membawa apa yang mereka pelajari ke dalam dunianya dan mnerapkannya pada situasi baru.
3. Prinsip-prinsip Quantun Teaching
Quantun Teaching memiliki lima prinsip atau kebenaran tetap;
a) Segalanya berbicara
b) Segalanya dari lingkungan kelas hingga bahasa tubuh, kertas yang guru bagikan hingga rancangan pelajaran, semua mengirim pesan tentang pelajaran.
c) Segalanya bertujuan
d) Pengalaman sebelum pemberian nama
e) Proses belajar paling efektif terjadi ketika siswa telah mengalami informasi sebelum mereka memperoleh nama untuk apa yang mereka pelajari.
f) Akui setiap usaha
g) Setiap mengambil langkah, siswa patut mendapat pengakuan atas kecakapan dan kepercayaan diri mereka.
h) Jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan
C. Efektifitas Quantum Teaching Dalam Pembelajaran
Quantun Teaching mencakup petunjuk spesifik untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif, merancang kurikulum, menyampaikan isi dan memudahkan proses belajar. Cara-cara belajar dalam Quantun Teaching dapat meningkatkan;
1) Partisipasi dengan menggubah (mengorkestrasi) keadaan
2) Motivasi dan minat dengan menerapkan kerangka rancangan (TANDUR)
3) Rasa kebersamaan dengan menggunakan delapan kunci keunggulan
4) Daya ingat dengan menggunakan SLIM-n-BILL
5) Daya dengan anak didik anda dengan mengikuti prinsip-prinsip komunikasi AMPUH
6) Kehalusan transisi dengan MPT
Masih banyak strategi lain yang akan dapat menempatkan guru dan siswa pada jalur cepat dan semua itu menuju kesuksesan belajar. Prinsip-prinsip ini mempengaruhi seluruh aspek Quantun Teaching yang dianggap sebagai struktur chord dasar dan simponi belajar, sekaligus menjadi infrastruktur bagi model pembelajaran guru.
D. Kesimpulan
Dari uraian tentang Quantun Teaching diatas, dapat diambil beberapa kesimpulan, sebagai berikut;
1) Dalam pembelajaran Quantun Teaching akan dikenalkan cara-cara baru yang memudahkan proses belajar lewat pemaduan unsur seni dan pencapaian-pencapaian yang terarah.
2) Dalam Quantun Teaching berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas, interaksi yang mendirikan landasan dan kerangka untuk belajar. Dengan penciptaan lingkungan kelas yang menyenangkan, siswa akan memperoleh suatu penguat (reinforcer) dan akan mampu membangkitkan motivasi siswa dalam belajar.
3) Dalam pembelajaran Quantun Teaching, murid akan lebih banyak berpartisipasi dan merasa lebih bangga akan diri mereka sendiri.
4) Penerapan pembelajaran Quantun Teaching akan menjadikan interaksi-interaksi yang menggubah kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi cahaya yang akan bermanfaat bagi mereka dan orang lain.
5) Model pembelajaran Quantun Teaching akan menyingkirkan hambatan-hambatan yang menghalangi proses belajar dengan secara sengaja menggunakan musik, mewarnai lingkungan sekeliling, menyusun bahan pengajaran yang sesuai, dan mengembalikan proses belajar ke keadaan mudah dan alami.
6) Di dalam Quantun Teaching, proses belajar siswa dimulai/beranjak dari informasi atau sesuatu yang telah ada atau diketahui siswa sebelum mereka memperoleh nama untuk apa mereka peajari.
E. Penutup
Proses belajar mengajar adalah fenomena yang kompleks. Segala sesuatunya berarti setiap kata, pikiran, tindakan, dan asosiasi dan sampai sejauh mana kita menggubah lingkungan, presentasi dan system pengajaran, sejauh itu pula proses belajar berlangsung. Quantum Teaching adalah penggubahan belajar yang meriah dengan segala nuansanya. Quantum Teaching berfokus pada hubungan dinamis dalam linkungan kelas, interaksi yang mendirikan landasan dan kerangka untuk belajar. Asas utama Quantum Teaching bersandar pada konsep; Bawalah Dunia Mereka ke Dunia Kita, dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka. Artinya bahwa pentingnya seorang guru untuk masuk ke dunia siswa sebagai langkah pertama dalam proses pembelajaran.
Penulis merasa yakin bahwa landasan teori metode ini sangat cocok untuk diterapkan dalam proses pembelajaran di SD. Lingkungan yang mendukung dan proses pembelejaran yang menyenangkan dan menggairahkan dapat menciptakan serta meningkatkan motivasi siswa SD untuk belajar. Sehingga keluhan-keluhan seperti bosan, jenuh, kurang bergairah dan tidak menarik yang selama ini sering didengungkan dari siswa dalam proses pembelajaran di sekolah dapat teratasi melalui metode ini. Semoga bermanfaat…
* * *
Daftar Sumber:
Abror, A.R. 1989. Psikologi Pendidikan.Yogyakarta: PT. Tiara Wacana
Akbar, Reni dan Hawadi. 2001. Psikologi Perkembangan Anak. Jakarta: PT. Grasindo
De Porter, B. Reardon, M. Dan Siregar, N.S. 2000. Quantum Teaching. Bandung: Penerbit Kaifa
De Porter, Micke hernaki. 1992. Quantum Learning. Bandung: Penerbit
KaifaSlamento. 1995. Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT. Rineka Cipta

Baca juga info berikut ini ya, Beli property tanpa uang dan tanpa KPR dari Cipto Junaedy
thumbnail

Pembelajaran kooperatif model TGT (Team Game Tournament)

Pembelajaran kooperatif model TGT (Team Game Tournament)

Pembelajaran kooperatif model TGT (Team Game Tournament) adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement. Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar.

Model pembelajaran kooperatif mempunyai banyak sekali variasi. Salah satu di antaranya adalah model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournaments) Menurut Saco (2006), dalam TGT siswa memainkan permainan-permainan dengan anggota-anggota tim lain untuk memperoleh skor bagi tim mereka masing-masing. Permainan dapat disusun guru dalam bentuk kuis berupa pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan materi pelajaran. Kadang-kadang dapat juga diselingi dengan pertanyaan yang berkaitan dengan kelompok (identitas kelompok mereka).

Permainan dalam TGT dapat berupa pertanyaan-pertanyaan yang ditulis pada kartu-kartu yang diberi angka. Tiap siswa, misalnya, akan mengambil sebuah kartu yang diberi angka tadi dan berusaha untuk menjawab pertanyaan yang sesuai dengan angka tersebut. Turnamen harus memungkinkan semua siswa dari semua tingkat kemampuan (kepandaian) untuk menyumbangkan poin bagi kelompoknya. Prinsipnya, soal sulit untuk anak pintar, dan soal yang lebih mudah untuk anak yang kurang pintar. Hal ini dimaksudkan agar semua anak mempunyai kemungkinan memberi skor bagi kelompoknya. Permainan yang dikemas dalam bentuk turnamen ini dapat berperan sebagai penilaian alternatif atau dapat pula sebagai reviu materi pembelajaran.

Edi Prayitno (2006: 7-8) mengemukakan bahwa dalam team games tournaments (TGT) setiap tim beranggotakan 4-5 orang yang memiliki kemampuan yang setara atas dasar hasil tes minggu sebelumnya. Siswa yang berprestasi paling rendah pada tiap kelompok mempunyai peluang yang sama untuk memperoleh poin bagi timnya sebagai siswa yang berprestasi tinggi. Meskipun keanggotaan tim tetap sama, tetapi tiga orang yang mewakili tim untuk bertanding dapat berubah berdasarkan penampilan dan prestasi masing-masing anggota. Sebagai contoh siswa yang berprestasi rendah yang sebelumnya bertanding melawan siswa yang kemampuannya setara dapat bertanding melawan siswa yang berprestasi lebih tinggi ketika mereka menjadi lebih mampu. Slavin (1995:84-86) mengatakan bahwa komponen-komponen dalam TGT perlu memperhatikan:

a. Presentasi Kelas
Dalam presentasi kelas siswa diperkenalkan dengan materi pembelajaran yang diberikan secara langsung oleh guru atau didiskusikan dalam kelas dengan guru sebagai fasilitator. Pembelajaran mengacu pada apa yang disampaikan guru agar kelak dapat membantu siswa dalam mengikuti team games turnaments.

b. Kelompok (Team)
Kelompok terdiri dari empat sampai lima orang yang hiterogen. Tujuan utama pembentukan kelompok adalah untuk meyakinkan siswa bahwa semua anggota kelompok belajar dan semua anggota mempersiapkan diri untuk mengikuti game dan turnamen dengan sebaik-baiknya. Diharapkan setiap anggota kelompok melakukan hal yang terbaik untuk kelompoknya

c. Permainan ( Games )
Permainan dibuat dengan isi pertanyaan-pertanyaan untuk mengetes pengetahuan siswa yang didapat dari presentasi kelas dan latihan kelompok. Game dimainkan dengan meja yang berisi tiga siswa yang diwakili kelompok berbeda. Siswa mengambil kartu yang bernomor dan berusaha untuk menjawab pertanyaan sesuai dengan nomor. Aturannya membolehkan pemain untuk menantang jawaban yang lain

d. Kompetisi (Turnamen)
Kompetisi merupakan bentuk permainan langsung. Umumnya diselenggarakan pada akhir minggu setelah guru membuat presentasi kelas dan kelompok-kelompok mempraktikkan tugas-tugasnya. Untuk turnamen pertama guru memberikan siswa permainan-permainan meja tiga siswa-siswa dengan kemampuan tertinggi di meja 1, meja 2 dan setrusnya. Kompetisi ini merupakan system penilaian kemampuan perorangan dalam STAD, memungkinkan bagi siswa dari semua level di penampilan sebelumnya untuk mengoptimalkan nilai kelompok mereka menjadi yang terbaik

e. Penghargaan kelompok (Team recognize)
Guru kemudian mengumumkan kelompok yang menang, masing-masing team akan mendapat sertifikat atau hadiah apabila rata-rata skor memenuhi kriteria yang ditentukan. Team mendapat julukan “Super Team” jika rata-rata skor 45 atau lebih, “Great Team” apabila rata-rata mencapai 40-45 dan “Good Team” apabila rata-ratanya 30-40

Dari beberapa pendapat di atas dapat dikemukakan bahwa langkah-langkah dalam model pembelajaran kooperatif TGT adalah sebagai berikut:

1. Kelompok (Team)

* Membentuk kelompok yang terdiri dari 4 sampai 5 orang siswa yang anggotanya heterogen
* Memberitahu siswa tentang tugas yang harus dikerjakan oleh anggota kelompok.

2. Presentasi Kelas (Class Presentation)

* Menyampaiakan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai
* Menghimbau siswa bahwa materi yang disampaikan akan berguna pada saat game dan menentukan skor kelompok.
* Menyampaikan/mempresentasikan materi pelajaran di dalam kelas,

3. Permainan (Games)

* Memberikan game dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji pengetahuan yang didapat siswa dari penyajian materi.
* Memberikan game dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan dalam bentuk kartu indek
* Memberikan dan mengumpulkan skor kepada siswa yang menjawab benar.

4. Kompetisi (Turnamen)

* Membagi siswa ke dalam beberapa meja turnamen. Tiga siswa tertinggi prestasinya pada meja I, tiga siswa selanjutnya pada meja II dan seterusnya.
* Mengkoordinasikan jalannya turnamen dengan prosedur pelaksanaan.

5. Penghargaan (Team recognize)

* Mengumumkan hasil penilaian dari pengumpulan skor turnamen.
* Memberikan penghargaan terhadap usaha-usaha yang telah dilakukan oleh individu maupun oleh kelompok.

Baca juga info berikut ini ya, Beli property tanpa uang dan tanpa KPR dari Cipto Junaedy
thumbnail

MODEL PEMBELAJARAN TIME TOKEN

A. MODEL PEMBELAJARAN TIME TOKEN
Model pembelajaran Time Token Arends merupakan salah satu contoh kecil dari penerapan pembelajaran yang demokratis di sekolah. Proses pembelajaran yang demokratis adalah proses belajar yang menempatkan siswa sebagai subyek. Mereka harus mengalami sebuah perubahan ke arah yang lebih positif. Dari yang tidak bisa menjadi bisa, dari tidak paham menjadi paham, dan dari tidak tahu menjadi tahu. Di sepanjang proses belajar itu, aktivitas siswa menjadi titik perhatian utama. Dengan kata lain mereka selalu dilibatkan secara aktif. Guru dapat berperan untuk mengajak siswa mencari solusi bersama terhadap permasalahan yang ditemui.
Model ini digunakan (Arends, 1998) untuk melatih dan mengembangkan ketrampilan sosial agar siswa tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali. Guru memberi sejumlah kupon berbicara dengan waktu ± 30 detik per kupon pada tiap siswa. Sebelum berbicara, siswa menyerahkan kupon terlebih dahulu pada guru. Setiap tampil berbicara satu kupon. Siswa dapat tampil lagi setelah bergiliran dengan siswa lainnya. Siswa yang telah habis kuponnya tak boleh bicara lagi. Siswa yang masih memegang kupon harus bicara sampai semua kuponnya habis.

B. SINTAK MODEL PEMBELAJARAN TIME TOKEN ARENDS
Adapun sintak dari model pembelajaran Time Token Arends ini adalah sebagai berikut :
1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran/KD.
2. Guru mengkondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi klasikal.
3. Guru memberi tugas pada siswa.
4. Guru memberi sejumlah kupon berbicara dengan waktu ± 30 detik per kupon pada tiap siswa.
5. Guru meminta siswa menyerahkan kupon terlebih dahulu sebelum berbicara atau memberi komentar. Setiap tampil berbicara satu kupon. Siswa dapat tampil lagi setelah bergiliran dengan siswa lainnya. Siswa yang telah habis kuponnya tak boleh bicara lagi. Siswa yang masih memegang kupon harus bicara sampai semua kuponnya habis. Demikian seterusnya hingga semua anak berbicara.
6. Guru memberi sejumlah nilai sesuai waktu yang digunakan tiap siswa
(Pada RPP ini, tiap siswa maju ke depan untuk membacakan puisi secara bergiliran dan siswa yang lain mengomentari puisi yang dibaca siswa dengan menggunakan kupon berbicara)

C. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN MODEL PEMBELAJARAN TIME TOKEN ARENDS
Kelebihan Model Time Token Arends
- Mendorong siswa untuk meningkatkan inisiatif dan partisipasinya.
- Siswa tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali
- Siswa menjadi aktif dalam kegiatan pembelajaran
- Meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi (aspek berbicara)
- Melatih siswa untuk mengungkapkan pendapatnya.
- Menumbuhkan kebiasaan pada siswa untuk saling mendengarkan, berbagi, memberikan masukan dan keterbukaan terhadap kritik
- Mengajarkan siswa untuk menghargai pendapat orang lain.
- Guru dapat berperan untuk mengajak siswa mencari solusi bersama terhadap permasalahan yang ditemui.
- Tidak memerlukan banyak media pembelajaran.
Kekurangan Model Time Token Arends
- Hanya dapat digunakan untuk mata pelajaran tertentu saja.
- Tidak bisa digunakan pada kelas yang jumlah siswanya banyak.
- Memerlukan banyak waktu untuk persiapan dan dalam proses pembelajaran, karena semua siswa harus berbicara satu persatu sesuai jumlah kupon yang dimilikinya.
- Siswa yang aktif tidak bisa mendominasi dalam kegiatan pembelajaran

Model Pembelajaran Time Token sangat tepat untuk pembelajaran struktur yang dapat digunakan untuk mengajarkan keterampilan sosial, untuk menghindari siswa mendominasi pembicaraan atau siswa diam sama sekali.
Model pembelajaran time token adalah model pembelajaran yang digunakan dengan tujuan agar siswa aktif berbicara. Dalam pembelajaran diskusi, time token digunakan agar siswa aktif bertanya dalam berdiskusi. Dengan membatasi waktu berbicara misalnya 30 detik, diharapkan siswa secara adil mendapatkan kesempatan untuk berbicara.

D. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Time Token
Langkah-langkah pembelajarannya sebagai berikut :
1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran/KD.
2. Guru mengkondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi (cooperative learning / CL).
3. Tiap siswa diberi sejumlah kupon berbicara dengan waktu ± 30 detik per kupon. Tiap siswa diberi sejumlah nilai sesuai waktu yang digunakan.
4. Bila telah selesai bicara kupon yang dipegang siswa diserahkan. Setiap tampil berbicara satu kupon. Siswa dapat tampil lagi setelah bergiliran dengan siswa lainnya.
5. Siswa yang telah habis kuponnya tak boleh bicara lagi. Siswa yang masih memegang kupon harus bicara sampai semua kuponnya habis.
6. Demikian seterusnya.

http://wyw1d.wordpress.com/2009/11/14/model-pembelajaran-time-token-arends1998/
http://syariffauzan.blogspot.com/2011/11/model-pembelajaran-time-token-arends.html

Baca juga info berikut ini ya, Beli property tanpa uang dan tanpa KPR dari Cipto Junaedy
thumbnail

Model Pembelajaran Pair Check

A. Pengertian
Pair check (pasangan mengecek) adalah model pembelajaran berkelompok atau berpasangan yang dipopulerkan oleh Spencer Kagen tahun 1993. Model ini menerapkan pembelajaran berkelompok yang menuntut kemandirian dan kemampuan siswa dalam menyelesaikan persoalan yang diberikan. Banyak kelebihan maupun kelemahan.
Satu lagi Model Pembelajaran siswa berpasangan, yaitu Pair Check. Model pembelajaran ini juga untuk melatih rasa sosial siswa, kerja sama dan kemampuan memberi penilaian.
B. Sintaks model pembelajaran Pair Cheks
Sintaknya adalah sebagai berikut :
1. Siswa berkelompok berpasangan sebangku,
2. salah seorang menyajikan persoalan dan temannya mengerjakan,
3. pengecekan kebenaran jawaban,
4. bertukar peran,
4. penyimpulan,
5. evaluasi
6. refleksi.

Berikut ini sintak dari model pair check
1. Guru menjelaskan konsep
2. Siswa dibagi beberapa tim. Setiap tim terdiri dari 4 orang. Dalam satu ti ada 2 pasangan. Setiap pasangan dalam satu tim ada yang menjadi pelatih dan ada yang patner.
3. Guru membagikan soal kepada si patner
4. Patner menjawab soal , dan si pelatih bertugas mengecek jawabannya. Setiap soal yang benar pelatih memberi kupon.
5. Bertukar peran. Si pelatih menjadi patner dan si patner menjadi pelatih
6. Guru membagikan soal kepada si patner
7. Patner menjawab soal , dan si pelatih bertugas mengecek jawabannya. Setiap soal yang benar pelatih memberi kupon.
8. Setiap pasangan kembali ke tim awal dan mencocokkan jawaban satu sama lain.
9. Guru membimbing dan memberikan arahan atas jawaaban dari berbagai soal dan tim mengecek jawabannya.
10. Tim yang paling banyak mendapat kupon diberi hadiah


C. Langkah-langkah Pembelajarannya, sebagai berikut :
1). Bekerja Berpasangan
Guru membentuk tim berpasangan berjumlah 2 (dua) siswa. Setiap pasangan mengerjakan soal yang pas sebab semua itu akan membantu melatih siswa dalam menilai.
2). Pelatih Mengecek
Apabila patner benar pelatih memberi kupon.
3). Bertukar Peran
Seluruh patner bertukar peran dan mengulangi langkah 1 – 3.
4). Pasangan Mengecek
Seluruh pasangan tim kembali bersama dan membandingkan jawaban.
5). Penegasan Guru
Guru mengarahkan jawaban /ide sesuai konsep.
Demikianlah, mudah-mudahan postingan ini dapat menambah khasanah pembelajaran kita sehingga pembelajaran yang dirancang Bapak/Ibu Guru dapat lebih bervariatif, lebih bermakna, menantang sekaligus menyenangkan.
D. Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihannya
1. Dipandu belajar melalui bantuan rekan
2. Menciptakan saling kerjasama di antara siswa
3. Increases comprehension of concepts and/or processesMeningkatkan pemahaman konsep dan / atau proses
4. menmemenimelatih berkomunikasi
Kekurangannya
1. memerlukan banyak waktu
2. memerlukan pemahaman yang tinggi terhadap konsep untuk menjadi pelatih.


Dikutip dari :
http://wyw1d.wordpress.com/2009/11/14/model-pembelajaran-pair-checks-spencer-kagen1993/
http://syariffauzan.blogspot.com/2011/11/model-pembelajaran-pair-check.html
thumbnail

Contoh PTK Lomba Keberhasilan Guru Dalam Pembelajaran 2011

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI CIRI-CIRI KHUSUS PADA HEWAN MELALUI MODEL PEMBELAJARAN NHT( NUMBERED HEAD TOGETHER ) DI KELAS VI SDN TAMBAK SIRANG BARU KECAMATAN GAMBUT

OLEH : SAHRUDIN, S.Pd

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan adalah investasi jangka panjang yang memerlukan usaha dan dana yang cukup besar, hal ini diakui oleh semua orang atau suatu bangsa demi kelangsungan masa depannya. Demikian halnya dengan Indonesia menaruh harapan besar terhadap pendidikan dalam perkembangan masa depan bangsa ini, karena dari sanalah tunas muda harapan bangsa sebagai generasi penerus dibentuk.
Pendidikan menurut undang-undang sistem pendidikan nasional tahun 2003 adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara ( Depdiknas, 2007 : 3 ).
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab (Depdiknas, 2007 : 8).
Berbicara tentang pendidikan memiliki jangkauan dan kajian yang sangat luas, terutama menyangkut pembelajaran di sekolah. Sekolah dasar sebagai satuan pendidikan dasar memiliki fungsi dan peranan yang cukup penting dalam menentukan keberhasilan pendidikan ke jenjang berikutnya, karena materi yang diterima di sekolah dasar merupakan dasar-dasar pengetahuan, sikap keterampilan bagi jenjang pendidikan menengah. Materi tersebut diterima oleh anak didik melalui proses belajar mengajar.
Hamalik (2008 : 36) mengemukakan bahwa belajar adalah merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas daripada itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan perubahan kelakuan.
Menurut Djamarah (2000 : 15), belajar adalah perubahan dan tidak setiap perubahan adalah sebagai hasil belajar.
Moh. Surya dalam Akhmad Sudrajat (2008) menyatakan bahwa belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya” (Sudrajat, 2008).
Menurut Djamarah (2006 : 37) kegiatan belajar mengajar adalah suatu kondisi yang dengan sengaja diciptakan. Guru lah yang menciptakannya guna membelajarkan anak didik.
Perkembangan Iptek (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) yang semakin maju berbagai permasalahan banyak yang muncul. Di sinilah guru sebagai ujung tombak pendidikan. Strategi pembelajaran seperti apa yang harus dilakukan guru. Bagaimana mengembangkan pembelajaran di sekolah dasar yang benar-benar mampu mengembangkan potensi siswa secara optimal sesuai dengan yang diharapkan. Mampukah guru mewujudkan pelajaran sebagai pelajaran yang tidak membuat siswa bosan tetapi menyenangkan bagi siswa. Guru memerlukan sarana dan prasarana yang konkret bagaimana sebaiknya mengelola kegiatan belajar mengajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) agar lebih bermakna.
Kenyataan yang ada di kelas VI SDN Tambak Sirang Baru Kecamatan Gambut pada materi ciri-ciri khusus pada hewan masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami materi tersebut. Hal ini dilihat dari nilai rata-rata ulangan harian di kelas VI SDN Tambak Sirang Baru Kecamatan Gambut yang hanya memperoleh 47,50 pada tahun ajaran 2010 / 2011. Nilai ini masih belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan sekolah yaitu 60,00.
Salah satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa ini adalah : guru, proses belajar yang monoton dan tidak menarik minat siswa dalam mengikuti pembelajaran. Siswa merasa bosan dan jenuh dalam proses belajar mengajar. Beberapa penyebab lainnnya adalah pembelajaran di sekolah khususnya, IPA lebih menekankan pada aspek kognitif saja dengan menggunakan hafalan dalam upaya menguasai ilmu pengetahuan, bukan mengembangkan keterampilan berpikir siswa, mengembangkan aktualisasi konsep dengan diimbangi pengalaman konkret dan aktivitas bereksperimen.
Hal demikian tidak bisa dibiarkan terus menerus, karena apabila dibiarkan berlarut-larut akan berakibat terhadap hasil belajar siswa dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di kelas VI SDN Tambak Sirang Baru Kecamatan Gambut menurun, jika hasil belajar siswa menurun maka akan berpengaruh terhadap mutu pendidikan di SDN Tambak Sirang Baru Kecamatan Gambut.
Melihat hal tersebut maka peneliti berusaha untuk mengatasi masalah ini dengan menggunakan model pembelajaran NHT (Numbered Head Together). Pembelajaran NHT (Numbered Head Together) merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik, sehingga diharapkan dapat membuat siswa antusias dalam mengikuti pembelajaran serta proses belajar mengajar tidak membosankan, dengan menggunakan model pembelajaran ini diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan aktivitas siswa menjadi lebih baik.
Menurut Slavin dalam Solihatin (2007 : 4) Cooperative Learning mengandung pengertian sebagai suatu sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu diantara sesama dalam struktur kerja sama dalam bekerja atau membantu diantara sesama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih dimana keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari setiap anggota kelompok itu sendiri.
Berdasarkan uraian diatas, maka penelitian tindakan kelas ini diberi judul :“Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada materi ciri-ciri khusus pada hewan melalui Model Pembelajaran NHT (Numbered Head Together) di Kelas VI SDN Tambak Sirang Baru Kecamatan Gambut“.

B. Ruang Lingkup
Ruang lingkup Penelitian Tindakan Kelas ini adalah penggunaan model pembelajaran NHT (Numbered Head Together) untuk meningkatkan hasil belajar siswa tentang materi ciri-ciri khusus pada hewan di kelas VI SDN Tambak Sirang Baru Kecamatan Gambut Kabupaten Banjar tahun pelajaran 2011 – 2012, dengan batasan-batasan sebagai berikut :
1. Mengacu pada Standar Kompetensi (SK) yang tertulis dala silabus yaitu : (1.) Memahami hubungan antara ciri-ciri makhluk hidup dengan lingkungan tempat hidupnya
2. Hanya dibatasi satu Kompetensi Dasar (KD) yaitu : (1.1) Mendeskripsikan hubungan antara ciri-ciri khusus yang dimiliki hewan (kelelawar, cicak, bebek) dan lingkungan hidupnya

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas dalam penelitian ini masalah dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Apakah dengan penggunaan model pembelajaran NHT (Numbered Head Together) dapat meningkatkan hasil belajar IPA tentang materi ciri-ciri khusus pada hewan di kelas VI SDN Tambak Sirang Baru Kecamatan Gambut ?.
2. Apakah dengan penggunaan model pembelajaran NHT (Numbered Head Together) dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran IPA tentang materi ciri-ciri khusus pada hewan di kelas VI SDN Tambak Sirang Baru Kecamatan Gambut ?.
3. Bagaimana penggunaan model pembelajaran NHT (Numbered Head Together) dapat meningkatkan aktivitas guru dalam melaksanakan pembelajaran IPA tentang materi ciri-ciri khusus pada hewan di kelas VI SDN Tambak Sirang Baru Kecamatan Gambut ?.

D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan pada hal tersebut diatas Penelitian Tindakan Kelas (PTK) bertujuan untuk mengetahui :
1. Hasil belajar siswa setelah selesai mempelajari materi pembelajaran yang dilaksanakan dengan menggunakan model pembelajaran NHT.
2. Aktivitas siswa selama berlangsungnya pembelajaran yang dilaksanakan dengan menggunakan model pembelajaran NHT.
3. Aktivitas guru dalam melaksanakan pembelajaran yang dilaksanakan dengan menggunakan model pembelajaran NHT.

E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan akan bermanfaat :
1. Bagi peserta didik, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai motivasi dalam meningkatkan minat dan kemampuan siswa.
2. Bagi guru, menambah kreativitas guru untuk menerapkan pembelajaran yang bervariasi dan menambah wawasan dalam menyelenggarakan proses pembelajaran dengan menggunakan berbagai model pembelajaran.
3. Bagi sekolah, memberi sumbangan pemikiran terhadap proses pembelajaran, sehingga dapat meningkatkan prestasi siswa dan kualitas sekolah semakin baik.
4. Bagi KKG/MGMP, menambah wawasan tentang model pembelajaran NHT (Numbered Head Together) dan dapat memberikan masukan pada forum KKG / MGMP.
5.
F. Sajian Definisi
1. Hasil belajar adalah kemampuan keterampilan, sikap dan keterampilan yang diperoleh siswa setelah ia menerima perlakuan yang diberikan oleh guru sehingga dapat mengkonstruksikan pengetahuan itu dalam kehidupan sehari-hari.
2. Model pembelajaran NHT (Numbered Head Together) merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik
3. Ciri-ciri khusus pada hewan, Setiap makhluk hidup mempunyai ciri-ciri khusus yang membedakannya dengan makhluk lain. Ciri-ciri khusus tersebut ada pada makhluk hidup untuk mempertahankan hidup di dalam

untuk Bab Selanjutnya masih dalam tahap upload...
thumbnail

Model Pembelajaran Scramble


Model Pembelajaran Scramble tampak seperti Model Pembelajaran Word Square, bedanya jawaban soal tidak dituliskan di dalam kotak-kotak jawaban, tetapi sudah dituliskan namun dengan susunan yang acak, nah siswa nanti bertugas mengkoreksi ( membolak-balik huruf ) jawaban tersebut sehingga menjadi jawaban yang tepat/benar.
Model pembelajaran scramble tampak seperti model pembelajaran word square, bedanya jawaban soal tidak dituliskan di dalam kotak-kotak jawaban, tetapi sudah dituliskan, namun dengan susunan yang acak, jadi siswa bertugas mengoreksi (membolak-balik huruf) jawaban tersebut sehingga menjadi jawaban yang tepat / benar.

Kelebihan Model pembelajaran Scramble :
1. Memudahkan mencari jawaban
2. Mendorong siswa untuk belajar mengerjakan soal tersebut
3. Semua siswa terlibat
4. Kegiatan tersw dapat mendorong pemahaman siswa terhadap materi pelajaran
5. Melatih untuk disiplin

Kekurangan model pembelajaran scramble
1. Siswa kurang berfikir kritis
2. Bisa saja mencontek jawaban teman lainnya
3. Mematikan kreatifitas siswa
4. Siswa tinggal menerima bahan mentah

Langkah-langkah Model pembelajaran scramble :
1. Guru menyajikan materi sesuai topic, misalnya guru menyajikan materi pelajaran tentang “Tata Surya”
2. Setelah selesai menjelaskan tentang Tata Surya, guru membagikan lembar kerja dengan jawaban yang diacak susunannya.
3. Media yang digunakan dalam model pembelajaran scramble :
4. Buat pertanyaan yang sesuai dengan TPK
5. Buat jawaban yang diacak hurufnya

Media :
Buatlah pertanyaan yang sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai
Buat jawaban yang diacak hurufnya
Langkah-langkah pembelajarannya sebagai berikut :
Guru menyajikan materi sesuai kompetensi yang ingin dicapai.
Membagikan lembar kerja sesuai contoh.
Susunlah huruf-huruf pada kolom B sehingga merupakan kata kunci (jawaban) dari pertanyaan pada kolom A!

Kolom A
1. Sebelum mengenal uang orang melakukan pertukaran dengan cara …
2. … digunakan sebagai alat pembayaran yang sah
3. Uang … saat ini banyak dipalsukan
4. Nilai bahan pembuatan uang disebut nilai …
5. Kemampuan uang untuk ditukar dengan sejumlah barang atau jasa disebut nilai …
6. Nilai perbandingan uang dalam negeri dengan mata uang asing disebut …
7. Nilai yang tertulis pada uang disebut nilai …
8. dorongan seseorang menyimpan uang untuk keperluan jual beli disebut …
9. perintah tertulis dari seseorang yang mempunyai rekening di bank untuk membayar sejumlah uang disebut …

Kolom B
1. TARREB ……………………………. ( Contoh : jawaban yang benar……BARTER )
2. GANU …………………………………
3. TRASEK ………………………………
4. KISTRINI ………………………………
5. LIRI ………………………………………
6. SRUK …………………………………
7. MINALON ………………………….
8. SAKSITRAN …………………………
9. KEC ……………………………………

sumber referensi dari beberapa blog pendidikan, semoga bermanfaat bagi dunia pendidikan
thumbnail

Model Pembelajaran Think Pair and Share (TPS)

Model Pembelajaran Think Pair and Share menggunakan metode diskusi berpasangan yang dilanjutkan dengan diskusi pleno. Dengan model pembelajaran ini siswa dilatih bagaimana mengutarakan pendapat dan siswa juga belajar menghargai pendapat orang lain dengan tetap mengacu pada materi/tujuan pembelajaran.


Langkah-Langkah Pembelajaran

1) Guru menyampaikan inti materi
2) Siswa berdiskusi dengan teman sebelahnya tentang materi/permasalahan yang disampaikan guru
3) Guru memimpin pleno dan tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya
4) Atas dasar hasil diskusi, guru mengarahkan pembicaraan pada materi/permasalahan yang belum diungkap siswa
5) kesimpulan

Think Pair Share (TPS) merupakan suatu teknik sederhana dengan keuntungan besar. Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengingat suatu informasi dan seorang siswa juga dapat belajar dari siswa lain serta saling menyampaikan idenya untuk didiskusikan sebelum disampaikan di depan kelas. Selain itu, Think Pair Share (TPS) juga dapat memperbaiki rasa percaya diri dan semua siswa diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam kelas. Think Pair Share (TPS) sebagai salah satu metode pembelajaran kooperatif yang terdiri dari 3 tahapan, yaitu thinking, pairing, dan sharing. Guru tidak lagi sebagai satu-satunya sumber pembelajaran (teacher oriented), tetapi justru siswa dituntut untuk dapat menemukan dan memahami konsep-konsep baru (student oriented).

Hambatan yang ditemukan selama proses pembelajaran antara lain berasal dari segi siswa, yakni: siswa-siswa yang pasif, dengan metode ini mereka akan ramai dan mengganggu teman-temannnya. Tahap pair siswa yang seharusnya menyelesaikan soal dengan berdiskusi bersama pasangan satu bangku dengannya tetapi masih suka memanfaatkan kegiatan ini untuk berbicara di luar materi pelajaran, menggantungkan pada pasangan dan kurang berperan aktif dalam menemukan penyelesaian serta menanyakan jawaban dari soal tersebut pada
pasangan yang lain. Jumlah siswa di kelas juga berpengaruh terhadap pelaksanaan metode think pair share ini. Jumlah siswa yang ganjil berdampak pada saat pembentukan kelompok. Akibatnya terdapat kelompok yang beranggotakan lebih dari 2 (dua) siswa. Hal ini akan memperlambat proses diskusi pada tahap pair, karena pasangan lain telah menyelesaikan sementara satu siswa tidak mempunyai pasangan. Hambatan lain yang ditemukan yaitu dari segi waktu.

Kelemahan lain yang terjadi pada tahap think adalah ketidaksesuaian antara waktu yang direncanakan dengan pelaksanaannya. Hal ini dikarenakan siswa yang suka mengulur-ulur waktu dengan alasan pekerjaan belum diselesaikan. Hal ini berdampak pada hasil belajar ranah kognitif, yaitu siswa kurang menunjukkan kemampuan yang sesungguhnya. Metode ini membutuhkan banyak waktu karena terdiri dari 3 (tiga) langkah yang harus dilaksanakan oleh seluruh siswa yang meliputi tahap think, pair, share. Untuk mengatasi hambatan dalam penerapan metode kooperatif think pair share yaitu guru akan berkeliling kelas dengan mengingatkan kembali tahap-tahap yang harus siswa lalui. Hal tersebut dilakukan agar siswa tertib dalam melalui setiap tahapnya dalam proses pembelajaran ini. Guru akan memberikan point pada
siswa, jika siswa tersebut mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan atau memberikan sanggahan pada tahap share.

model pembelajaran Think-Pair-Share diharapkan siswa dapat mengembangkan keterampilan berfikir dan menjawab dalam komunikasi antara satu dengan yang lain, serta bekerja saling membantu dalam kelompok kecil. Hal ini sesuai dengan pengertian dari model pembelajaran Think-Pair-Share itu sendiri, sebagaimana yang dikemukakan oleh Lie (2002:57) bahwa, “Think-Pair-Share adalah pembelajaran yang memberi siswa kesempatan untuk bekerja sendiri dan bekerjasama dengan orang lain. Dalam hal ini, guru sangat berperan penting untuk membimbing siswa melakukan diskusi, sehingga terciptanya suasana belajar yang lebih hidup, aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Dengan demikian jelas bahwa melalui model pembelajaran Think-Pair-Share, siswa secara langsung dapat memecahkan masalah, memahami suatu materi secara berkelompok dan saling membantu antara satu dengan yang lainnya, membuat kesimpulan (diskusi) serta mempresentasikan di depan kelas sebagai salah satu langkah evaluasi terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan.


model pembelajaran Think-Pair-Share merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif sederhana yang memiliki prosedur secara eksplisit sehingga model pembelajaran Think-Pair-Share dapat disosialisasikan dan
digunakan sebagai alternatif dalam pembelajaran sejarah di sekolah. Keunggulan lain dari pembelajaran ini adalah optimalisasi partisipasi siswa. Dengan metode klasikal yang memungkinkan hanya satu siswa maju dan membagikan hasilnya untuk seluruh kelas, tipe Think-Pair-Share ini memberi kesempatan sedikitnya delapan kali lebih banyak kepada siswa untuk dikenali dan menunjukkan partisipasi mereka kepada orang lain (Lie,
2004:57).

Di samping mempunyai keunggulan, model pembelajaran Think-Pair-Share juga mempunyai kelemahan. Kelemahannya adalah: (1) metode pembelajaran Think-Pair-Share belum banyak diterapkan di sekolah, (2) sangat memerlukan kemampuan dan ketrampilan guru, waktu pembelajaran berlangsung guru melakukan intervensi secara maksimal, (3) menyusun bahan ajar setiap pertemuan dengan tingkat kesulitan yang sesuai dengan taraf berfikir anak dan, (4) mengubah kebiasaan siswa belajar dari yang dengan cara mendengarkan ceramah diganti dengan belajar berfikir memecahkan masalah secara kelompok, hal ini merupakan kesulitan sendiri bagi siswa (Lie : 2004).

Model pembelajaran Think-Pair- Share dikembangkan oleh Frank Lyman dkk dari Universitas Maryland pada tahun 1985. Model pembelajaran Think-Pair-Share merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif sederhana. Teknik ini memberi kesempatan pada siswa untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan
orang lain. Keunggulan teknik ini adalah optimalisasi partisipasi siswa (Lie, 2004:57). Model pembelajaran Think-Pair-Share adalah salah satu model pembelajaran yang memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk menunjukkan partisipasi kepada orang lain.
Adapun langkah-langkah dalam pembelajaran Think-Pair- Share adalah: (1) guru membagi siswa dalam kelompok berempat dan memberikan tugas kepada semua kelompok, (2) setiap siswa memikirkan dan mengerjakan tugas tersebut sendiri, (3) siswa berpasangan dengan salah satu rekan dalam kelompok
dan berdiskusi dengan pasangannya, (4) kedua pasangan bertemu kembali dalam kelompok berempat. Siswa mempunyai kesempatan untuk membagikan hasil kerjanya kepada kelompok berempat (Lie, 2004: 58). Think-Pair-Share memiliki prosedur ynag ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa waktu lebih banyak untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain (Nurhadi dkk, 2003 : 66). Sebagai contoh, guru baru
saja menyajikan suatu topik atau siswa baru saja selesai membaca suatu tugas, selanjutnya guru meminta siswa untuk memikirkan permasalahan yang ada dalam topik/bacaan tersebut.
Langkah-langkah dalam pembelajaran Think-Pair-Share sederhana, namun penting trutama dalam menghindari kesalahan-kesalahan kerja kelompok (http: // home. att-net/_clnetwork/think ps.htm). Dalam model ini, guru meminta siswa untuk memikirkan suatu topik, berpasangan dengan siswa lain dan mendiskusikannya, kemudian berbagi ide dengan seluruh kelas. Tahap utama dalam pembelajaran Think-Pair-Share menurut Ibrahim (2000: 26-27) adalah sebagai berikut:

Tahap 1 : Thingking (berpikir)
Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang berhubungan dengan pelajaran. Kemudian siswa diminta untuk memikirkan pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri untuk beberapa saat.

Tahap 2 : Pairing
Guru meminta siswa berpasangan dengan siswa lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkannya pada tahap pertama. Dalam tahap ini, setiap anggota pada kelompok membandingkan jawaban atau hasil pemikiran mereka dengan mendefinisikan jawaban yang dianggap paling benar, paling meyakinkan, atau paling unik.
Biasanya guru memberi waktu 4-5 menit untuk berpasangan.

Tahap 3 : Sharing (berbagi)
Pada tahap akhir, guru meminta kepada pasangan untuk berbagi dengan seluruh kelas tentang apa yang telah mereka bicarakan. Keterampilan berbagi dalam seluruh kelas dapat dilakukan dengan menunjuk pasangan yang secara sukarela bersedia melaporkan hasil kerja kelompoknya atau bergiliran pasangan demi pasangan hingga sekitar seperempat pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan.

Langkah-langkah atau alur pembelajaran dalam model Think-Pair-Share adalah:
Langkah ke 1 : Guru menyampaikan pertanyaan
Aktifitas : Guru melakukan apersepsi, menjelaskan tujuan pembelajaran, dan menyampaikan pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang akan disampaikan.

Langkah ke 2 : Siswa berpikir secara individual
Aktifitas : Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk memikirkan jawaban dari permasalahan yang disampaikan guru. Langkah ini dapat dikembangkan dengan meminta siswa untuk menuliskan hasil pemikiranyya masing-masing.

Langkah ke 3: Setiap siswa mendiskusikan hasil pemikiran masing-masing dengan pasangan

Aktifitas : Guru mengorganisasikan siswa untuk berpasangan dan memberi kesempatan kepada siswa untuk mendiskusikan jawaban yang menurut mereka paling benar atau paling meyakinkan. Guru memotivasi siswa untuk aktif dalam kerja kelompoknya. Pelaksanaan model ini dapat dilengkapi dengan LKS sehingga kumpulan soal latihan atau pertanyaan yang dikerjakan secara kelompok.

Langkah ke 4 : Siswa berbagi jawaban dengan seluruh kelas
Aktifitas : Siswa mempresentasikan jawaban atau pemecahan masalah secara individual atau kelompok didepan kelas.

Langkah ke 5 : Menganalisis dan mengevaluasi hasil pemecahan masalah
Aktifitas : Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap hasil pemecahan masalah ang telah mereka diskusikan.

Kegiatan “berpikir-berpasaangan-berbagi” dalam model Think-Pair-Share
memberikan keuntungan. Siswa secara individu dapat mengembangkan pemikirannya masing-masing karena adanya waktu berpikir (think time), Sehingga kualitas jawaban juga dapat meningkat. Menurut Jones (2002), akuntabilitas berkembang karena siswa harus saling melaporkan hasil pemikiran masing-masing dan berbagi (berdiskusi) dengan pasangannya, kemudian pasangan-pasangan tersebut harus berbagi dengan seluruh kelas. Jumlah anggota kelompok yang kecil mendorong setiap anggota untuk terlibat secara aktif, sehingga siswa jarang atau bahkan tidak pernah berbicara didepan kelas paling tidak memberikan ide atau jawaban karena pasangannya.
Menurut Spencer Kagan ( dalam Maesuri, 2002:37) manfaat Think-Pair-Share adalah: (1) para siswa menggunakan waktu yang lebih banyak untuk mengerjakan tugasnya dan untuk mendengarkan satu sama lain ketika mereka terlibat dalam kegiatan Think-Pair-Share lebih banyak siswa yang mengangkat tangan mereka untuk menjawab setelah berlatih dalam pasangannya. Para siswa mungkin mengingat secara lebih seiring penambahan waktu tunggu dan kualitas jawaban mungkin menjadi lebih baik, dan (2) para guru juga mungkin
mempunyai waktu yang lebih banyak untuk berpikir ketika menggunakan Think-Pair-Share. Mereka dapat berkonsentrasi mendengarkan jawaban siswa, mengamati reaksi siswa, dan mengajukan pertanyaaan tingkat tinggi.



Pembelajaran Kooperatif Model Think-Pair-Share
Model Think-Pair-Share tumbuh dari penelitian pembelajaran kooperatif, model Think-Pair-Share dapat juga disebut sebagai model belajar-mengajar berpasangan. Model ini pertama kali dikembangkan oleh Frank Lyman dari Universitas Maryland pada tahun 1985 (Think-Pair-Share) sebagai struktur kegiatan pembelajaran gotong royaong. Model ini memberikan siswa kesempatan untuk bekerja sendiri serta bekerjasama dengan orang lain. Think-Pair-Share memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa waktu lebih banyak untuk berpikir, menjawab, dan saling membantu satu sama lain. Model Think-Pair-Share sebagai ganti dari tanya jawab seluruh kelas.

Sebagai suatu model pembelajaran Think-Pair-Share memiliki langkah-langkah tertentu. Menurut Muslimin (2001: 26) langkah-langkah Think-Pair-Share ada tiga yaitu : Berpikir (Thinking), berpasangan (Pair), dan berbagi (Share)

Tahap 1 : Thinking (berpikir)
Kegiatan pertama dalam Think-Pair-Share yakni guru mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan topik pelajaran. Kemudian siswa diminta untuk memikirkan pertanyaan tersebut secara untuk beberapa saat. Dalam tahap ini siswa dituntut lebih mandiri dalam mengolah informasi yang dia dapat.

Tahap 2 : Pairing (berpasangan)
Pada tahap ini guru meminta siswa duduk berpasangan dengan siswa lain untuk mendiskusikan apa yang telah difikirkannya pada tahap pertama. Interaksi pada tahap ini diharapkan dapat membagi jawaban dengan pasangannya. Biasanya guru memberikan waktu 4-5 menit untuk berpasangan.

Tahap 3 : Share (berbagi)
Pada tahap akhir guru meminta kepada pasangan untuk berbagi jawaban dengan seluruh kelas tentang apa yang telah mereka diskusikan. Ini efektif dilakukan dengan cara bergiliran pasangan demi pasangan dan dilanjutkan sampai sekitar seperempat pasangan telah mendapat kesempatan untuk melaporkan.

Keunggulan dari Think-Pair-Share ini adalah optimalisasi partisipasi siswa. Dengan metode klasikal yang memungkinkan hanya satu siswa maju dan membagikan hasilnya untuk seluruh kelas, model Think-Pair-Share ini memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk menunjukkan partisipasi mereka kepada orang lain. Model ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan anak didik

TPS
Kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe TPS adalah: a) memungkinkan siswa untuk merumuskan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai materi yang diajarkan karena secara tidak langsung memperoleh contoh pertanyaan yang diajukan oleh guru, serta memperoleh kesempatan untuk memikirkan materi yang diajarkan b) siswa akan terlatih menerapkan konsep karena bertukar pendapat dan pemikiran dengan temannya untuk mendapatkan kesepakatan dalam memecahkan masalah, c) siswa lebih aktif dalam pembelajaran karena menyelesaikan tugasnya dalam kelompok, dimana tiap kelompok hanya terdiri dari 2 orang, d) siswa memperoleh kesempatan untuk mempersentasikan hasil diskusinya dengan seluruh siswa sehingga ide yang ada menyebar, e) memungkinkan guru untuk lebih banyak memantau siswa dalam proses pembelajaran (Hartina, 2008: 12). Senada dengan pendapat Hartina, Lie (2005: 46) mengemukakan bahwa kelebihan dari kelompok berpasangan (kelompok yang teridiri dari 2 orang siswa) adalah 1) akan meningkatkan pasrtisipasi siswa, 2) cocok untuk tugas sederhana, 3) lebih banyak memberi kesempatan untuk kontribusi masing-masing anggota kelompok, 4) interaksi lebih mudah, dan 5) lebih mudah dan cepat membentuk kelompok. Selain itu, menurut Lie, keuntungan lain dari teknik ini adalah teknik ini dapat digunakan dalam semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.

Adapun kelemahan model pembelajaran kooperatif tipe TPS adalah sangat sulit diterapkan di sekolah yang rata-rata kemampuan siswanya rendah dan waktu yang terbatas, sedangkan jumlah kelompok yang terbentuk banyak (Hartina, 2008: 12). Menurut Lie (2005: 46), kekurangan dari kelompok berpasangan (kelompok yang terdiri dari 2 orang siswa) adalah: 1) banyak kelompok yang melapor dan perlu dimonitor, 2) lebih sedikit ide yang muncul, dan 3) tidak ada penengah jika terjadi perselisihan dalam kelompok.

Tahapan-tahapan dalam pembelajaran think-pair-share sederhana, namun penting terutama dalam menghindari kesalahan dalam kerja kelompok. Dalam model ini guru meminta siswa untuk memikirkan suatu topik, berpasangan dengan siswa lain, kemudian berbagi ide dengan seluruh kelas. Adanya kegiatan berpikir-berpasangan-berbagi dalam metode thinkpair-share memberi banyak keuntungan. Siswa secara individual dapat mengembangkan pemikirannya masing-masing karena adanya waktu berpikir (think time) sehingga kualitas jawaban siswa juga dapat meningkat. Menurut Nurhadi (2003: 65), akuntabilitas berkembang karena setiap siswa harus saling melaporkan hasil pemikiran masing-masing dan berbagi dengan seluruh kelas. Jumlah anggota kelompok yang kecil mendorong setiap anggota untuk terlibat secara aktif, sehingga siswa yang jarang atau bahkan tidak pernah berbicara di depan kelas paling tidak memberi ide atau jawaban kepada pasangannya.

Kelebihan metode pembelajaran TPS menurut Ibrahim, dkk. (2000:6):
1. Meningkatkan pencurahan waktu pada tugas. Penggunaan metode pembelajaran TPS menuntut siswa menggunakan waktunya untuk mengerjakan tugas-tugas atau permasalahan yang diberikan oleh guru di awal pertemuan sehingga diharapkan siswa mampu memahami materi dengan baik sebelum guru menyampaikannya pada pertemuan selanjutnya.
2. Memperbaiki kehadiran. Tugas yang diberikan oleh guru pada setiap pertemuan selain untuk melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran juga dimaksudkan agar siswa dapat selalu berusaha hadir pada setiap pertemuan. Sebab bagi siswa yang sekali tidak hadir maka siswa tersebut tidak mengerjakan tugas dan hal ini akan
mempengaruhi hasil belajar mereka.
3. Angka putus sekolah berkurang. Model pembelajaran TPS diharapkan dapat memotivasi siswa dalam pembelajaran sehingga hasil belajar siswa dapat lebih baik daripada pembelajaran dengan model konvensional.
4. Sikap apatis berkurang. Sebelum pembelajaran dimulai, kencenderungan siswa merasa malas karena proses belajar di kelas hanya mendengarkan apa yang disampaikan guru dan menjawab semua yang ditanyakan oleh guru. Dengan melibatkan siswa secara aktif dalam proses belajar mengajar, metode pembelajaran TPS akan lebih menarik dan tidak monoton dibandingkan metode konvensional.
5. Penerimaan terhadap individu lebih besar. Dalam model pembelajaran konvensional, siswa yang aktif di dalam kelas hanyalah siswa tertentu yang benar-benar rajin dan cepat dalam menerima materi yang disampaikan oleh guru sedangkan siswa lain hanyalah “pendengar” materi yang disampaikan oleh guru. Dengan pembelajaran TPS hal ini
dapat diminimalisir sebab semua siswa akan terlibat dengan permasalahan yang diberikan oleh guru.
6. Hasil belajar lebih mendalam. Parameter dalam PBM adalah hasil belajar yang diraih oleh siswa. Dengan pembelajaran TPS perkembangan hasil belajar siswa dapat diidentifikasi secara bertahap. Sehingga pada akhir pembelajaran hasil yang diperoleh siswa dapat lebih optimal.
7. Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi. Sistem kerjasama yang diterapkan dalam model pembelajaran TPS menuntut siswa untuk dapat bekerja sama dalam tim, sehingga siswa dituntut untuk dapat belajar berempati, menerima pendapat orang lain atau mengakui secara sportif jika pendapatnya tidak diterima.

Kelemahan metode TPS adalah pembelajaran yang baru diketahui, kemungkinan yang dapat timbul adalah sejumlah siswa bingung, sebagian kehilangan rasa percaya diri, saling mengganggu antar siswa (Ibrahim,2000:18).

Baca juga info berikut ini ya, Beli property tanpa uang dan tanpa KPR dari Cipto Junaedy
thumbnail

METODE PEMBELAJARAN YANG LEBIH BERPUSAT PADA SISWA

Pembahasan tentang metode pembelajaran yang lebih berpusat pada siswa meliputi : kerja kelompok, karya wisata, penemuan, eksperimen, pengajaran unit, dan pengajaran dengan modul ini dikembangkan berdasarkan tulisan Kartawisastra, dkk (1980), Sumantri dan Permana (1998/1999), Tareja, dkk (1980), Mainuddin dan Gunawan (1980), dan Sagala (2000). Metode-metode pembelajaran itu secara rinci dapat Anda kaji dalam uraian berikut :

1. Metode Kerja Kelompok

a. Pengertian

Sagala (2006) mengatakan bahwa metode kerja kelompok adalah cara pembelajaran dimana siswa dalam kelas dibagi dalam beberapa kelompok, dimana setiap kelompok dipandang sebagai satu kesatuan tersendiri untuk Strategi Pembelajaran 7-3
mempelajari materi pelajaran yang telah ditetapkan untuk diselesaikan secara bersama-sama. Pada umumnya materi pelajaran yang harus dikerjakan secara bersama-sama dalam kelompok itu diberikan atau disiapkan oleh guru. Materi itu harus cukup kompleks isinya dan cukup luas ruang lingkupnya sehingga dapat dibagi-bagi menjadi bagian yang cukup memadai bagi setiap kelompok. Materi hendaknya membutuhkan bahan dan informasi dari berbagai sumber untuk pemecahannya. Masalah yang bisa diselesaikan hanya dengan membaca satu sumber saja tentu tidak cocok untuk ditangani melalui kerja kelompok. Kelompok dapat dibentuk berdasarkan perbedaan individual dalam kemampuan belajar, perbedaan bakat dan minat belajar, jenis kegiatan, materi pelajaran, dan tujuan yang ingin dicapai. Berdasarkan tugas yang harus diselesaikan, siswa dapat dibagi atas kelompok paralel yaitu setiap kelompok menyelesaikan tugas yang sama, dan kelompok komplementer dimana setiap kelompok berbeda-beda tugas yang harus diselesaikan.

b. Tujuan

Metode kerja kelompok yang digunakan dalam suatu strategi pembelajaran bertujuan untuk :

1) memecahkan masalah pembelajaran melalui proses kelompok

2) mengembangkan kemampuan bekerjasama di dalam kelompok

c. Alasan Penggunaaan Metode Kerja Kelompok

Mengapa guru memilih kerja kelompok sebagai metode pembelajaran? Guru menggunakan metode kerja kelompok dalam pembelajaran karena:

1) Kerja kelompok dapat mengembangkan perilaku gotong royong dan demokratis.

2) Kerja kelompok dapat memacu siswa aktif belajar.

3) Kerja kelompok tidak membosankan siswa melakukan kegiatan belajar diluar kelas bahkan diluar sekolah yang bervariasi, seperti observasi, wawancara, cari buku di perpustakaan umum, dan sebagainya.

d. Kekuatan dan Keterbatasan Metode Kerja Kelompok

1) Kekuatan Metode Kerja Kelompok

a) membiasakan siswa bekerja sama, musyawarah dan bertanggung jawab

b) menimbulkan kompetisi yang sehat antar kelompok, sehingga membangkitkan kemauan belajar yang sungguh-sungguh.
7-4 Unit 7

c) Guru dipermudah tugasnya karena tugas kerja kelompok cukup disampaikan kepada para ketua kelompok.

d) Ketua kelompok dilatih menjadi pemimpin yang bertanggung jawab, dan anggotanya dibiasakan patuh pada aturan yang ada.

2) Kelemahan Metode Kerja Kelompok

a) Sulit membentuk kelompok yang homogen baik segi minat, bakat, prestasi maupun intelegensi.

b) Pemimpin kelompok sering sukar untuk memberikan pengertian kepada anggota, menjelaskan, dan pembagian kerja

c) Anggota kadang-kadang tidak mematuhi tugas-tugas yang diberikan pemimpin kelompok

d) Dalam menyelesaikan tugas, sering menyimpang dari rencana karena kurang kontrol dari pemimpin kelompok atau guru.

e) Sulit membuat tugas yang sama sulit dan luasnya terutama bagi kerja kelompok yang komplementer.

e. Cara Mengatasi Kelemahan Metode Kerja Kelompok

Bagaimana cara mengatasi kelemahan Metode Kerja Kelompok? Kelemahan metode kerja kelompok dapat diatasi dengan:

1) Mengkaji lebih dulu materi pelajaran dengan cermat, lalu buat garis besar rincian tugasnya untuk setiap kelompok agar bobot tugas tersebut sama beratnya.

2) Adakan tes sosiometri dan hasilnya digunakan untuk pembentukan kelompok yang mereka kehendaki.

3) Bimbingan dan pengawasan kepada setiap kelompok harus dilakukan terus menerus.

4) Jumlah anggota dalam satu kelompok jangan terlalu banyak

5) Motivasi yang diberikan jangan sampai menimbulkan persaingan antar kelompok yang kurang sehat.

f. Langkah-Langkah Pembelajaran dengan Metode Kerja Kelompok

1) Kegiatan Persiapan

a) Merumuskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai

b) Menyiapkan materi pembelajaran dan menjabarkan materi tersebut kedalam tugas-tugas kelompok.

c) Mengidentifikasi sumber-sumber yang akan menjadi sasaran kegiatan kerja kelompok.
Strategi Pembelajaran 7-5

d) Menyusun peraturan pembentukan kelompok, cara kerja, saat memulai dan mengakhiri, dan tata tertib lainnya.

2) Kegiatan Pelaksanaan

a) Kegiatan Membuka Pelajaran

Melaksanakan apersepsi, yaitu pertanyaan tentang materi pelajaran sebelumnya.

Memotivasi belajar dengan mengemukakan kasus yang ada kaitannya dengan materi pelajaran yang akan diajarkan

Mengemukakan tujuan pelajaran dan berbagai kegiatan yang akan dikerjakan dalam mencapai tujuan pelajaran itu.

b) Kegiatan Inti Pelajaran

Mengemukakan lingkup materi pelajaran yang akan dipelajari

Membentuk kelompok

Mengemukakan tugas setiap kelompok kepada ketua kelompok atau langsung kepada semua siswa

Mengemukakan peraturan dan tata tertib serta saat memulai dan mengakhiri kegiatan kerja kelompok.

Mengawasi, memonitor, dan bertindak sebagai fasilitator selama siswa melakukan kerja kelompok.

Pertemuan klasikal untuk pelaporan hasil kerja kelompok, pemberian balikan dari kelompok lain atau dari guru.

c) Kegiatan Mengakhiri Pelajaran

Meminta siswa merangkum isi pelajaran yang telah dikaji melalui kerja kelompok.

Melakukan evaluasi hasil dan proses

Melaksanakan tindak lanjut baik berupa mengajari ulang materi yang belum dikuasai siswa maupun memberi tugas pengayaan bagi siswa yang telah menguasai materi tersebut.

Dikutip dari :
Abimanyu, Soli dkk. 2008. Strategi Pembelajaran. Jakarta : Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional
thumbnail

25 MACAM METODE MENGAJAR (PEMBELAJARAN)

Metode Pembelajaran merupakan cara melakukan atau menyajikan, menguraikan, memberi contoh, dan memberi latihan isi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu. Dapat dikatakan metode pembelajaran merupakan bagian dari strategi instruksional. Tetapi tidak semua metode pembelajaran sesuai digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu.

Penulisan mengenai metode di bawah ini tidak mengikuti suatu urutan tertentu, tetapi dilakukan secara acak. Diungkapkan pula kapan baiknya metode tersebut dilaksanakan serta keunggulan dan kekurangan metode tersebut.

Keyword : Metode Ceramah, Metode demonstrasi, Metode Eksperimen, Metode Proyek, Metode WidyaWisata, Metode Tanya Jawab, Metode Bermain Peran, Metode Pameran (Penampilan), Metode Latihan, Metode Simulasi, Metode Cerita, Metode Permainan, Metode Studi Mandiri, Metode Pembelajaran Terprogram, Metode Latihan Bersama Teman, Metode BrainStorming (Pemecahan Masalah), Metode Studi Kasus (Penugasan), Metode Insiden, Metode Seminar, Metode Simposium, Metode Tutorial, Metode Induktif, Metode Deduktif, Metode Computer Assisted Learning (CAL).


Download Selengkapnya disini
thumbnail

E-Learning : Belajar Sambil Bermain

Yang namanya belajar emang membosankan. Tapi, apakah kita gak belajar hanya gara-gara bosan, apalagi malas? Namun, di era serba Syber ini kamu gak usah bingung.

Dengan perkembangan teknologi yang semakin cepat, terutama dunia ICT (Information And Communication Technology), kamu tidak perlu bingung untuk belajar. Melalui Internet, kamu bisa mendapatkan banyak pelajaran yang bakal membantu studi kamu.

Apa sih E-learning itu? Prinsip dasar E-Learning adalah menfasilitasi komunikasi antara guru dan anak didik, mengembangkan kerja sama dan kemampuan anak didik untuk belajar mandiri dengan memberikan umpan balik secepatnya dalam bentuk jawaban-jawaban latihan.

Keuntungannya, lewat E-Learning ini guru dan siswa bisa berkomunikasi melalui internet tanpa ada batas ruang dan waktu. E-Learning memungkinkan berkembangnya sistem bagi orang-orang yang kurang beruntung yang secara normal tidak mendapatkan sistem pendidikan formal. Lebih lanjut, kini para siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga dapat saling bertukar ide dan informasi atau memperbaiki pelajaran mereka di waktu senggangnya.

Tapi kelemahan E-Learning terletak pada siswanya sendiri. Siswa yang kurang antusias dan disiplin dalam belajar melalui internet akan menemui kesulitan-kesulitan.

Nah, berikut ini beberapa situs E-learning yang bisa kamu akses.

http://www.teknimedia.com
Di situs ini disediakan bermacam-macam paket pelajaran atau semacam kursus dalam bentuk CD untuk mempelajari bermacam-macam ilmu komputer dan internet

http://literature.domaindlx.com/josunter/e-school/
Situs ber-bahasa Indonesia ini menamakan dirinya e-school (sekolah-elektronik). Materi di sana kebanyakan berhubungan dengan dunia internet. Sayangnya, orang yang berminat dikenai biaya untuk masing-masing mata pelajaran.

http://www.fisika.net
fisik@net merupakan situs pertama, yang khusus memuat segala referensi fisika untuk semua kalangan masyarakat.

http://p3m.dikti.org/html/index.php
Situs ini dibuat dan dikelola Subdit Pengembangan Sistem Informasi Strategi Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (DITBINLITABMAS) Direktorat Pembinaan Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi

http://id.i-tutor.net
Situs ini menyediakan paket belajar online yang lengkap untuk anak-anak berusia 7 sampai dengan 12 tahun seperti Bahasa Inggris, Bahasa Mandarin, Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam. Jadi lumayan bagi kamu yang punya adik di SD bisa ngajari lewat internet.

Findtutorials.com - http://www.findtutorials.com
Situs ini adalah gerbang pencari situs tutorial online di web ( 700 kategori, 4000 tutorial) Beginners.co.uk - http://www.beginners.co.uk/ Situs ini menyediakan 300 tutorial free online seperti HTML, JAVA, .NET, Javascript, Flash, PHP, SQL, C++, C#, VB, ASP dan masih banyak lagi.

Devcentral - http://devcentral.iftech.com/default.php
Situs ini untuk orang yang concern dengan masalah Teknologi Informasi, dan dokumennya berformat PDF (Portable Data Format). Isinya terdiri dari C, C++,C# Win32, Java, VB, DCOM, Networking, Perl, XML, dsb.

Ehow.com - http://www.ehow.com
Situs ini berisi 14 kategori dan 120 subkategori, contoh kategorinya antara lain : Automotive, Careers/Education, Computers, Relationships, Dating, marriage, Finance/Business, Health, Hobbies/Games ,Crafts, Fashion, Pets, Travel dan banyak lagi.

Lifelonglearning - http://www.angelfire.com/journal/brownrb/index.html
Situs ini mengklaim telah diakses lebih dari 10 juta orang. Wow hebat kan, kalau pengen tahu isinya ? klik aja alamat diatas.

Techtutorials.com - http://www.techtutorials.com
Situs ini berisi 1700 direktori tutorial gratis dengan topik seperti computer hardware, databases, networking, UNIX, Linux, Programming, dsb. Situs ini dibuat oleh orang yang membangun mcmcse.com, yaitu resource untuk membantu orang yang akan ujian sertifikasi Microsoft's MCSE.

Howstuffworks.com - http://www.howstuffworks.com
Seperti namanya, di situs ini kamu bisa belajar bagaimana cara kerja suatu barang. Banyak hal yang disediakan, mulai dari komputer & internet, mesin, barang-barang sekitar rumah, automotif, elektro, telekom dan masih banyak lagi.

Sumber : Tabloid Segitiga (Oktober 2002)
thumbnail

Menjadikan Televisi Sebagai Sumber Belajar Yang Baik

Dewasa ini kita hidup di tengah abad informasi. Seiring dengan tuntutan zamannya, manusia akan selalu memiliki ketergantungan terhadap media informasi. Televisi sebagai salah satu media informasi dan sarana komunikasi tidak bisa dipisahkan keberadaannya dari kehidupan masyarakat. Hampir setiap keluarga memiliki media yang satu ini. Memang tidak bisa dipungkiri kalau televisi memiliki banyak manfaat. Terutama acara-acara yang menayangkan berita-berita aktual, santapan rohani, ilmu pengetahuan, dan sajian-sajian lainnya yang dapat menghantarkan pemirsa pada sesuatu yang bermakna. Hal itu menurut Rahma Widyana karena secara teknis televisi memiliki keunggulan cara kerja. Yaitu adanya perpaduan antara gambar dan suara sehingga membuat pesan informasi lebih mudah diserap oleh seluruh lapisan masyarakat, baik kalangan manusia berpendidikan maupun tidak berpendidikan.

Di balik kemanfaatan yang dapat dipetik pemirsa dari televisi, sebenarnya TV banyak menyimpan pesan yang kurang bermanfaat atau bahkan merusak (destruktif), baik bagi orang tua, remaja maupun anak-anak. Khususnya bagi anak-anak, media ini banyak membawa dampak negatif bagi dunianya. Kita sering mendengar keluh-kesah orang tua tentang perilaku anak-anaknya yang kurang terpuji, seperti ; suka membantah, pemalas, penuntut, berani dan kurang ajar terhadap orang tua. Mereka lantas menuding televisi sebagai faktor penyebab semua kelakuan anak tersebut. Maka muncullah sikap kurang arif orang tua dalam menyikapi kasus ini. Beberapa di antaranya lalu melarang anak menonton televisi. Ada pula yang berbuat ekstrem dengan menganggap televisi sebagai barang haram yang tidak layak dimiliki keluarga Muslim (Zidni Immawan Muslimin, 2003).

Dari segi waktu, televisi lebih banyak lagi menimbulkan pengaruh negatif bagi anak. Pesawat ini telah menyita lebih lama kesempatan anak untuk belajar, bermain, bersosialisasi dengan teman-temannya serta membantu orang tuanya. Hal ini karena acara televisi mengandung daya pikat dan kemampuan yang tinggi dalam “menghipnotis” anak untuk menghabiskan waktu bersamanya. Rahma Widyana dalam makalahnya juga menyatakan kalau hasil survei yang dilakukan oleh Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) pada bulan April 2002 terhadap 561 anak dari 5 Sekolah Dasar di Jakarta Timur menunjukkan bahwa mereka umumnya menonton TV selama 30-35 jam per minggu. Hasil tersebut menunjukkan bahwa dari segi kuantitas menonton televisi, anak-anak Indonesia tidak jauh berbeda dengan anak-anak Amerika Serikat. Menurut Milton Chen, praktisi dan pengamat televisi Amerika, anak-anak di negeri Paman Sam tersebut menghabiskan waktunya untuk menonton TV sebanyak 28 jam dalam seminggu.

Beberapa psikolog mengatakan bahwa dunia anak adalah dunia bermain. Sedangkan bagi anak-anak sekolah, dunia anak adalah belajar. Permasalahannya adalah, bagaimana televisi yang menurut kebanyakan orang mengganggu anak dalam belajar itu justru bisa dijadikan sebagai sumber belajar baginya ?

Orang tua yang bijak , tentu akan akan mencari aneka solusi agar anak bisa memetik banyak segi manfaat dari televisi. Daripada menyalahkan anak dan televisi yang pada akhirnya justru akan memunculkan persoalan baru di luar yang kita harapkan. Ini selaras dengan target pendidikan ideal bahwa mendidik manusia punya ilmu untuk bisa memanfaatkan sarana, bukan berkutat pada ilmu cari sarana (harta). Begitu pula pensikapan ideal terhadap televisi, pemirsa lah yang mengelola tayangan televisi, bukan televisi yang menguasai kehidupan pemirsa.

Pentingnya anak sebagai obyek bahasan ini, sebab pada hakekatnya kedudukan anak bagi orang tuanya adalah sumber kebahagiaan, kesenangan dan harapan di dalam hidup di dunia dan di masa yang akan datang (akherat). Semua harapan ini bertumpu pada pendidikan yang baik pada anak-anak dan pemberian persiapan yang logis untuk kehidupan mereka. Sehingga mereka akan menjadi aktif memiliki elemen-elemen yang konstruktif di dalam masyarakat. Dengan begitu anak dapat menjadi sumber kebahagiaan orangtuanya. Allah SWT berfirman,”Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS.Al-Kahfi :46). Firman Allah ini juga mengisyaratkan bahwa pendidikan anak yang terabaikan , akan menjadikan mereka memiliki pribadi yang buruk, beban bagi keluarga , masyarakat dan umat manusia secara keseluruhan.

Rumah bagi keluarga adalah mikrokosmos masyarakat. Di sana mentalitas, intelektualitas, sikap, dan kecenderungan anak-anak terbentuk ketika mereka masih sangat kecil dan siap untuk menerima tuntunan dan bimbingan yang masuk akal. Jadi, peran penting orang tua dalam membentuk pemikiran anak menuju kebenaran dan amalan-amalan yang baik begitu jelas. Rasulullah bersabda, “Ajarilah anak-anakmu dan keluargamu kebaikan dan didiklah mereka.” (HR. Abdur Razak dan Sa’id bin Muslim). Juga sabda beliau SAW yang lain, “Tidaklah ada pemberian orang tua kepada anaknya yang lebih utama daripada budi pekerti yang baik” (HR. Tirmidzi).

Suatu hal yang perlu digarisbawahi bahwa dalam mendidik anak, Islam menekankan sikap dinamis. Sebagaimana pernah dipesan Rasulullah SAW, “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya.” Seiring dengan era saat ini , maka televisi sebenarnya merupakan media alternatif dalam menunjang pembelajaran anak. Ada beberapa tips untuk menjadikan televisi sebagai sumber belajar bagi anak. Pertama, menyeleksi acara TV yang akan ditonton. Bila orang tua tidak bisa menemani anak menonton televisi selayaknya ia memilihkan acara yang banyak mengandung unsur pengetahuan, wawasan dan ketrampilan (kreativitas). Misalnya tayangan tentang pengetahuan dunia hewan dan tumbuhan, kuis, sinetron anak, dan sejenisnya.

Kedua, menemani anak menonton TV. Makna ‘menemani’ di sini tentu saja tidak hanya duduk diam dan pasif di samping anak. Namun otang tua selayaknya aktif merangsang anak dengan bertanya, berkomentar, dan mengajak berdialog dengan anak akan baik dan buruknya nilai-nilai yang diserap dalam acara tersebut. Bila perlu orang tua bisa meminta penjelasan pada anak akan arah acara yang mereka tonton, mengajak anak berlomba menebak jawaban pertanyaan kuis, menerangkan istilah-istilah presenter TV yang masih asing bagi anak, dan sejenisnya.

Ketiga, bila kondisi memungkinkan, pergunakan pesawat video yang menyatu dengan televisi untuk menayangkan beberapa film keilmuan, film anak yang edukatif, atau permainan komputer dalam bentuk CD. Keempat, perlunya tenggang rasa dari orang tua untuk tidak menonton TV saat anak belajar, juga konsistensi nya terhadap tayangan yang boleh dan tidak boleh ditonton si anak, meskipun dirinya sangat ingin melihat acara TV yang disukainya.

Lebih utama dari kiat-kiat tersebut adalah tindakan orang tua dalam menerapkan metode terbaik dalam mengasuh, mendidik dan membesarkan anak-anak. Orang tua yang cerdas akan kenal betul kondisi psikologis anak-anaknya. Ia sangat paham dengan perbedaan sikap dan kecenderungan mereka, kemudian berusaha memasuki dunia mereka untuk menanamkan benih-benih baik berupa nilai-nilai luhur dan sifat terpuji dengan menggunakan metode pendidikan yang paling baik dan paling efektif. Bila bekal tersebut sudah ditanamkan kuat-kuat, maka dengan sendirinya anak akan memeliki kemampuan dalam menilai sesuatu yang baik atau tidak baik dari lingkungan sekitarnya. Termasuk di antaranya adalah media televisi yang ditonton setiap harinya.