Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
thumbnail

Pengertian, Tujuan, dan Manfaat Perencanaan

Saya dapat tugas kelompok mata kuliah Dasar-dasar Manajemen Pendidikan dari dosen pengampu meminta kami untuk membuat makalah yang membahas tentang Pengertian, Tujuan, dan Manfaat Perencanaan. semoga referensi ini bisa memberikan masukan untuk anda.

A.    Pengertian Perencanaan (Planning)
Perencanaan adalah sejumlah kegiatan yang ditentukan sebelumnya untuk dilaksanakan pada suatu periode tertentu dalam rangka mencapai tujuan yang ditetapkan. Perencanaan menurut Bintoro Tjokroaminoto dalam Husaini Usman (2008:60) adalah proses mempersiapkan kegiatan-kegiatan secara sistematis yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu. Prajudi Atmosudirjo dalam Husaini Usman (2008:60) juga berpendapat bahwa  perencanaan adalah perhitungan dan penentuan tentang sesuatu yang akan dijalankan dalam rangka mencapai tujuan tertentu, siapa yang melakukan, bilamana, di mana, dan bagaimana cara melakukannya.
Pengertian / Definisi Perencanaan adalah suatu kegiatan atau proses penganalisisan dan pemahaman sistem, penyusunan konsep dan kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan-tujuan demi masa depan yang baik (Soekidjo, 2003).
Dari pengertian-pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa perencanaan adalah kegiatan yang akan dilaksanakan di masa yang akan datang untuk mencapai tujuan dan dalam perencanaan itu mengandung beberapa unsur, diantaranya sejumlah kegiatan yang ditetapkan sebelumnya, adanya proses, hasil yang ingin dicapai, dan menyangkut masa depan dalam waktu tertentu (Usman, 2011:66).
Pelaksanaan dan pengawasan termasuk pemantauan, penilaian, dan pelaporan merupakan unsur yang tidak bisa dilepaskan dari perencanaan. Dalam perencanaan diperlukan pengawasan agar tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan.
Menurut T.Hani Handoko (1984:74) bahwa dalam perencanaan ada beberapa langkah, diantaranya adalah:
1.    Tahap I    : menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan,
2.    Tahap II    : merumuskan keadaan saat ini,
3.    Tahap III    : mengidentifikasi segala kemudahan dan hambatan, dan
4.    Tahapa IV    : mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan untuk mencapai tujuan.

B.    Tujuan Perencanaan
Menurut Husaini Usman (2011 : 65), Perencanaan bertujuan untuk :
1.    Standart Pengawasan, yaitu mencocokkan pelaksanaan dengan perencanaannya,
2.    Mengetahui kapan pelaksanaan dan selesainya suatu kegiatan,
3.    Mengetahui siapa saja yang terlibat (struktur organisasinya), baik kualifikasinya maupun kuantitasnya,
4.    Mendapatkan kegiatan yang sistematis termasuk biaya dan kualitas pekerjaan,
5.    Meminimalkan kegiatan-kegiatan yang tidak produktif dan menghemat biaya, tenaga dan waktu,
6.    Memberikan gambaran yang menyeluruh mengenai kegiatan pekerjaan,
7.    Menyerasikan dan memadukan beberapa sub kegiatan,
8.    Mendeteksi hambatan kesulitan yang bakal ditemi, dan
9.    Mengarahkan pada pencapaian tujuan.

C.    Manfaat Perencanaan
Husaini Usman dalam Bukunya yang berjudul “Manajemen, Teori, Praktik dan Riset Pendidikan” (2011 : 65) menuliskan bahwa manfaat perencanaan sebagai berikut:
1.    Standar pelaksanaan dan pengawasan,
2.    Pemilihan berbagai alternatif terbaik,
3.    Penyusunan skala prioritas, baik sasaran maupun kegiatan,
4.    Menghemat pemanfaatan sumber daya organisasi,
5.    Membantu manajer menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan,
6.    Alat untuk memudahkan dalam berkoordinasi dengan pihak terkait, dan
7.    Alat untuk meminimalkan pekerjaan yang tidak pasti.

Sumber Referensi :


Handoko, T. Hani. 1984. Manajemen.Yogyakarta: BPFE
Nototmodjo, Soekidjo. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat (Prinsip-Prinsip Dasar). Jakarta : Rineka Cipta, Cetakan Kedua.
Usman, Husaini. 2011. Manajemen : teori, praktik, dan riset pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.


thumbnail

GEBYAR TIK 2012 (BTIKP KALSEL)


Perkembangan teknologi yang sedemikian pesat, memberi kesempatan kepada kita untuk memanfaatkannya sebaik-baiknya.  Banyak kemajuan dalam teknologi informasi untuk dunia pendidikan yang dapat menjadi pendukung dalam belajar-mengajar.  Atas dasar tersebutlah diadakan Gebyar TIK, kegiatan tahunan yang merupakan rangkaian dari beberapa Lomba (Website, Blog dan Media Pembelajaran) serta Seminar  

MAKSUD DAN TUJUAN

Maksud :
Gebyar TIK diselenggarakan sebagai bentuk apresiasi dan penghargaan kepada SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK yang berdedikasi memajukan pendidikan di Kalimantan Selatan dengan mengembangkan dan memanfaatkan TIK untuk pendidikan  

Tujuan :
  • Mendorong dan meningkatkan pengembangan dan pemanfaatan TIK di sekolah sebagai sumber, sarana, maupun penunjang dalam belajar-mengajar
  • Meningkatkan potensi guru dalam pengembangan dan pemanfaatan TIK untuk pendidikan
  • Mengembangkan metode belajar-mengajar yang efektif dan efisien
  • Menumbuhkan kesadaran pendayagunaan teknologi yang tepat-guna

SASARAN/PESERTA LOMBA

Sasaran dari kegiatan ini adalah guru dari SD/MI, SMP/MTS, dan SMA/MA/SMK se-Kalimantan Selatan  

MEKANISME PELAKSANAAN
Mekanisme pelaksanaan lomba meliputi empat tahapan yaitu :
Tahap 1 : Pendaftaran
Dilakukan dengan melengkapi ketentuan dan persyaratan yang berlaku
Tahap 2 : Penyisihan
Penyisihan melibatkan Tim Juri Lokal yang akan menentukan 51 besar untuk Lomba Web dan Blog serta 39 besar untuk Lomba Media Pembelajaran.
Tahap 3 : Semifinal
Tim Juri Pusat akan menentukan 9 finalis Lomba Web, 12 finalis Lomba Blog dan masing-masing 5 finalis dari tiga jenjang (SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK) Lomba Media Pembelajaran
Tahap 4 : Final
Finalis akan mempresentasikan hasil karya untuk menentukan pemenang

KETENTUAN DAN PERSYARATAN
Ketentuan Pendaftaran :
1. Melengkapi formulir yang sudah terisi tertanda Kepala Sekolah.  Pendaftaran dapat dilakukan melalui :
Balai Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (BTIKP) Provinsi Kalimantan Selatan d.a. Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Selatan Jl. Letjend. S. Parman No.44 Banjarmasin 70114 Telepon : 0511-3362484-3362485 Faksimile : 0511-3362484

2. Melampirkan alamat URL Web atau Blog yang sudah online, atau file/data untuk media pembelajaran
3. Menyerahkan Deskripsi Hasil Karya untuk Lomba Web dan Blog, serta RPP untuk Lomba Media Pembelajaran

Ketentuan Peserta
1. Tercatat aktif sebagai guru dari sekolah bersangkutan pada tahun diselenggarakannya lomba ini
2. Peserta boleh mengikuti lebih dari satu lomba

Ketentuan Hasil Karya :
  1. Web Sekolah adalah Website yang dikelola oleh sekolah dan berisi informasi mengenai sekolah serta memiliki layanan penunjang pendidikan (elearning) di dalamnya, Blog Guru adalah Blog yang dikelola secara pribadi oleh guru dan menjadi media ajar antara guru dengan kelasnya, sedangkan Media Pembelajaran adalah pengaplikasian materi/bahan ajar dalam sebuah media pembelajaran berbasis TIK seperti Macromedia/Adobe Flash, Microsoft Powerpoint, dan lainnya
  2. Deskripsi Hasil Karya adalah karya tulis yang merangkum konsep dan tujuan dari pengembangan karya, sedangkan RPP adalah Rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam silabus.  Deskripsi Hasil Karya disertakan pada Lomba Web dan Blog, sedangkan RPP disertakan pada lomba Media Pembelajaran
  3. Menampilkan logo dan/atau gambar yang mewakili sekolah/pembuat.
  4. Menampilkan link/tautan ke http://btikp.org, http://sips.btikp.org, http://rumahbanjar.org
  1. Makalah/RPP (15%)
  • Materi (Materi tentang hasil karya ditulis terperinci dan mendalam, Kelengkapan/penunjang materi berupa data dan multimedia) (10%)
  • Penulisan (Format dan Gaya Bahasa Penulisan Baku, Ditulis secara sistematis dan mudah dipahami) (5)
2. Presentasi (20%)
  • Materi (Materi dipaparkan secara terperinci dan mendalam, Ketercapaian Pemahaman Audiens) (10%)
  • Metode (Pemaparan disampaikan secara sistematis dan efektif, Pengelolaan Kelas, Etika (Kerapian Berpakaian, Cara Berbicara, Merespon, Duduk, Berdiri, Berjalan, dll)) (10%)
3. Hasil Karya (65%)
WEB DAN BLOG
  • Sistem (Pemrograman dan Basis Data, Disain Komunikasi Audio/Visual, Penamaan URL) (10%)
  • Materi (Tersedianya fitur layanan pendidikan, Ragam materi terkait Pendidikan, Kualitas dan Kedalaman serta Kemutakhiran Materi, Kuantitas dan Kualitas Komentar, Motivasi untuk Belajar dan Memanfaatkan TIK dalam Pendidikan) (30%)
  • Dukungan (Pengumuman/Agenda, Buku Tamu/Kotak Email/Chat, Galeri Foto/Video, Mesin Pencari, Dokumen Unduhan, Polling, Forum, Modul/Widget Penunjang lainnya) (10%)
  • Keseluruhan (Popularitas (Google Index), Kemasan (Komunikatif, Mudah dipahami dan Kreatif dalam Penyajian)) (15%)
MEDIA PEMBELAJARAN
  • Sistem (Basis Aplikasi, Disain Komunikasi Audio/Visual, Interaktifitas) (10%)
  • Materi (Tingkat Kebutuhan Pengguna terhadap karya (Pemilihan Materi), Konten Multimedia, Kualitas dan Kedalaman serta Kemutakhiran Materi, Relevansi antara materi dan judul serta mata pelajaran yang diampu) (30%)
  • Dukungan (Evaluasi/Latihan, Ilustrasi/Simulasi, Fitur Penunjang lainnya) (10%)
  • Keseluruhan (Dokumentasi & Kelengkapan (Manual Pemakaian, plugin dan Kelengkapan lainnya), Kemasan (Komunikatif, Mudah dipahami dan Kreatif dalam Penyajian), Efektifitas dan Efisiensi Pemanfaatan Aplikasi) (15%)
HADIAH DAN PENGHARGAAN
Pemenang akan diberikan piagam dan/atau sertifikat serta uang pembinaan*
Lomba Web dan Blog**                      Lomba Media Pembelajaran**
Juara I        : Rp. 4.500.000,-              Juara I      : Rp. 4.000.000,-
Juara II       : Rp. 3.500.000,-              Juara II     : Rp. 3.000.000,-
Juara III      : Rp.2.500.000,-               Juara III    : Rp. 2.000.000,-
Harapan I   : Rp.1.500.000,-               Harapan I  : Rp.1.000.000,-
Harapan II  : Rp.1.000.000,-               Harapan II : Rp. 500.000,-
Harapan III : Rp. 500.000,-

*90 Semifinalis masing-masing lomba turut mendapatkan sertifikat
** Penentuan pemenang Lomba Web dan Blog diklasifikasikan tanpa jenjang, sedangkan untuk Lomba Media Pembelajaran, pemenang akan diklasifikasikan dalam tiga jenjang yaitu SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA/SMK  

JADWAL LOMBA
Pendaftaran   : 1 Juni - 6 September 2012
Pelaksanaan  : 17 - 18 September 2012  

KONTAK PERSON
  • Nikko (085752608250)
  • Rina (081348186666)
  • Deny (087814000160)

thumbnail

TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK



Teori belajar behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman [1].
Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000:143) [2]. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pebelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pebelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.
Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu pula bila respon dikurangi/dihilangkan (negative reinforcement) maka respon juga semakin kuat.
Beberapa prinsip dalam teori belajar behavioristik, meliputi: (1) Reinforcement and Punishment; (2) Primary and Secondary Reinforcement; (3) Schedules of Reinforcement; (4) Contingency Management; (5) Stimulus Control in Operant Learning; (6) The Elimination of Responses (Gage, Berliner, 1984).
Tokoh-tokoh aliran behavioristik di antaranya adalah Thorndike, Watson, Clark Hull, Edwin Guthrie, dan Skinner. Berikut akan dibahas karya-karya para tokoh aliran behavioristik dan analisis serta peranannya dalam pembelajaran.
Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Jadi perubahan tingkah laku akibat kegiatan belajar dapat berwujud konkrit, yaitu yang dapat diamati, atau tidak konkrit yaitu yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran, tetapi tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku yang tidak dapat diamati. Teori Thorndike ini disebut pula dengan teori koneksionisme (Slavin, 2000).
Ada tiga hukum belajar yang utama, menurut Thorndike yakni (1) hukum efek; (2) hukum latihan dan (3) hukum kesiapan (Bell, Gredler, 1991) [3]. Ketiga hukum ini menjelaskan bagaimana hal-hal tertentu dapat memperkuat respon
Aplikasi Teori Behavioristik dalam Pembelajaran

Aliran psikologi belajar yang sangat besar pengaruhnya terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran hingga kini adalah aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode drill atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan reinforcement dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik pebelajar, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan (''transfer of knowledge'') ke orang yang belajar atau pebelajar. Fungsi mind atau pikiran adalah untuk menjiplak struktur pengetahuan yag sudah ada melalui proses berpikir yang dapat dianalisis dan dipilah, sehingga makna yang dihasilkan dari proses berpikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan tersebut. Pebelajar diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pengajar atau guru itulah yang harus dipahami oleh murid.

Demikian halnya dalam pembelajaran, pebelajar dianggap sebagai objek pasif yang selalu membutuhkan motivasi dan penguatan dari pendidik. Oleh karena itu, para pendidik mengembangkan kurikulum yang terstruktur dengan menggunakan standar-standar tertentu dalam proses pembelajaran yang harus dicapai oleh para pebelajar. Begitu juga dalam proses evaluasi belajar pebelajar diukur hanya pada hal-hal yang nyata dan dapat diamati sehingga hal-hal yang bersifat tidak teramati kurang dijangkau dalam proses evaluasi. Implikasi dari teori behavioristik dalam proses pembelajaran dirasakan kurang memberikan ruang gerak yang bebas bagi pebelajar untuk berkreasi, bereksperimentasi dan mengembangkan kemampuannya sendiri. Karena sistem pembelajaran tersebut bersifat otomatis-mekanis dalam menghubungkan stimulus dan respon sehingga terkesan seperti kinerja mesin atau robot. Akibatnya pebelajar kurang mampu untuk berkembang sesuai dengan potensi yang ada pada diri mereka.

Karena teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan telah terstruktur rapi dan teratur, maka pebelajar atau orang yang belajar harus dihadapkan pada aturan-aturan yang jelas dan ditetapkan terlebih dulu secara ketat. Pembiasaan dan disiplin menjadi sangat esensial dalam belajar, sehingga pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan disiplin. Kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum dan keberhasilan belajar atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah.

Tujuan pembelajaran menurut teori behavioristik ditekankan pada penambahan pengetahuan, sedangkan belajar sebagi aktivitas “mimetic”, yang menuntut pebelajar untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau tes. Penyajian isi atau materi pelajaran menekankan pada ketrampian yang terisolasi atau akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian ke keseluruhan. Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara ketat, sehingga aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks/buku wajib dengan penekanan pada ketrampilan mengungkapkan kembali isi buku teks/buku wajib tersebut. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil belajar.

Evaluasi menekankan pada respon pasif, ketrampilan secara terpisah, dan biasanya menggunakan paper and pencil test. Evaluasi hasil belajar menuntut jawaban yang benar. Maksudnya bila pebelajar menjawab secara “benar” sesuai dengan keinginan guru, hal ini menunjukkan bahwa pebelajar telah menyelesaikan tugas belajarnya. Evaluasi belajar dipandang sebagi bagian yang terpisah dari kegiatan pembelajaran, dan biasanya dilakukan setelah selesai kegiatan pembelajaran. Teori ini menekankan evaluasi pada kemampuan pebelajar secara individual.
thumbnail

Model Pembelajaran Talking Stick

Model Pembelajaran Talking Stick
a. Pengertian Model Pembelajaran Talking Stick
Model pembelajaran Talking Stik adalah suatu model pembelajaran kelompok dengan bantuan tongkat, kelompok yang memegang tongkat terlebih dahulu wajib menjawab pertanyaan dari guru setelah siswa mempelajari materi pokoknya, selanjutnya kegiatan tersebut diulang terus-menerus sampai semua kelompok mendapat giliran untuk menjawab pertanyaan dari guru.
Dalam penerapan model pembelajaran Kooperatif Tipe Talking Stik ini, guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok dengan anggota 5 atau 6 orang yang heterogen. Kelompok dibentuk dengan mempertimbangkan keakraban, persahabatan atau minat, yang dalam topik selanjutnya menyiapkan dan mempersentasekan laporannya kepada seluruh kelas.
(http://jamaluddink1.blogspot.com/2011/07/model-pembelajaran-kooperatif-tipe.html)
b. Langkah-langkah Model Pembelajaran Talking Stick
Adapun Langkah-langkah Model Pembelajaran Talking Stick adalah sebagi berikut :
1) Guru menyiapkan sebuah tongkat yang panjangnya 20 cm.
2) Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari,kemudian memberikan kesempatan para kelompok untuk membaca dan mempelajari materi pelajaran.
3) Siswa berdiskusi membahas masalah yang terdapat di dalam wacana.
4) Setelah siswa selesai membaca materi pelajaran dan mempelajari isinya, guru mempersilahkan siswa untuk menutup isi bacaan.
5) Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada salah satu siswa, setelah itu guru memberikan pertanyaan dan siswa yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya, demikian sampai sebagian besar siswa mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru.
6) Guru memberikan kesimpulan.
7) Guru memberikan evaluasi/penilaian.
8) Guru menutup pembelajaran.
c. Kelebihan dan kekurangan Model pembelajaran Talking Stick
Adapun kelebihan model pembelajaran Talking Stick adalah sebagai berikut :
1) Menguji kesiapan siswa.
2) Melatih membaca dan memahami dengan cepat.
3) Agar lebih giat dalam belajar.
Sedangkan kekurangannya model pembelajaran Talking Stick adalah sebagai berikut :
1) Membuat siswa senam jantung.

Baca juga info berikut ini ya, Beli property tanpa uang dan tanpa KPR dari Cipto Junaedy
thumbnail

Pembelajaran kooperatif model TGT (Team Game Tournament)

Pembelajaran kooperatif model TGT (Team Game Tournament)

Pembelajaran kooperatif model TGT (Team Game Tournament) adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement. Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar.

Model pembelajaran kooperatif mempunyai banyak sekali variasi. Salah satu di antaranya adalah model pembelajaran kooperatif tipe TGT (Teams Games Tournaments) Menurut Saco (2006), dalam TGT siswa memainkan permainan-permainan dengan anggota-anggota tim lain untuk memperoleh skor bagi tim mereka masing-masing. Permainan dapat disusun guru dalam bentuk kuis berupa pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan materi pelajaran. Kadang-kadang dapat juga diselingi dengan pertanyaan yang berkaitan dengan kelompok (identitas kelompok mereka).

Permainan dalam TGT dapat berupa pertanyaan-pertanyaan yang ditulis pada kartu-kartu yang diberi angka. Tiap siswa, misalnya, akan mengambil sebuah kartu yang diberi angka tadi dan berusaha untuk menjawab pertanyaan yang sesuai dengan angka tersebut. Turnamen harus memungkinkan semua siswa dari semua tingkat kemampuan (kepandaian) untuk menyumbangkan poin bagi kelompoknya. Prinsipnya, soal sulit untuk anak pintar, dan soal yang lebih mudah untuk anak yang kurang pintar. Hal ini dimaksudkan agar semua anak mempunyai kemungkinan memberi skor bagi kelompoknya. Permainan yang dikemas dalam bentuk turnamen ini dapat berperan sebagai penilaian alternatif atau dapat pula sebagai reviu materi pembelajaran.

Edi Prayitno (2006: 7-8) mengemukakan bahwa dalam team games tournaments (TGT) setiap tim beranggotakan 4-5 orang yang memiliki kemampuan yang setara atas dasar hasil tes minggu sebelumnya. Siswa yang berprestasi paling rendah pada tiap kelompok mempunyai peluang yang sama untuk memperoleh poin bagi timnya sebagai siswa yang berprestasi tinggi. Meskipun keanggotaan tim tetap sama, tetapi tiga orang yang mewakili tim untuk bertanding dapat berubah berdasarkan penampilan dan prestasi masing-masing anggota. Sebagai contoh siswa yang berprestasi rendah yang sebelumnya bertanding melawan siswa yang kemampuannya setara dapat bertanding melawan siswa yang berprestasi lebih tinggi ketika mereka menjadi lebih mampu. Slavin (1995:84-86) mengatakan bahwa komponen-komponen dalam TGT perlu memperhatikan:

a. Presentasi Kelas
Dalam presentasi kelas siswa diperkenalkan dengan materi pembelajaran yang diberikan secara langsung oleh guru atau didiskusikan dalam kelas dengan guru sebagai fasilitator. Pembelajaran mengacu pada apa yang disampaikan guru agar kelak dapat membantu siswa dalam mengikuti team games turnaments.

b. Kelompok (Team)
Kelompok terdiri dari empat sampai lima orang yang hiterogen. Tujuan utama pembentukan kelompok adalah untuk meyakinkan siswa bahwa semua anggota kelompok belajar dan semua anggota mempersiapkan diri untuk mengikuti game dan turnamen dengan sebaik-baiknya. Diharapkan setiap anggota kelompok melakukan hal yang terbaik untuk kelompoknya

c. Permainan ( Games )
Permainan dibuat dengan isi pertanyaan-pertanyaan untuk mengetes pengetahuan siswa yang didapat dari presentasi kelas dan latihan kelompok. Game dimainkan dengan meja yang berisi tiga siswa yang diwakili kelompok berbeda. Siswa mengambil kartu yang bernomor dan berusaha untuk menjawab pertanyaan sesuai dengan nomor. Aturannya membolehkan pemain untuk menantang jawaban yang lain

d. Kompetisi (Turnamen)
Kompetisi merupakan bentuk permainan langsung. Umumnya diselenggarakan pada akhir minggu setelah guru membuat presentasi kelas dan kelompok-kelompok mempraktikkan tugas-tugasnya. Untuk turnamen pertama guru memberikan siswa permainan-permainan meja tiga siswa-siswa dengan kemampuan tertinggi di meja 1, meja 2 dan setrusnya. Kompetisi ini merupakan system penilaian kemampuan perorangan dalam STAD, memungkinkan bagi siswa dari semua level di penampilan sebelumnya untuk mengoptimalkan nilai kelompok mereka menjadi yang terbaik

e. Penghargaan kelompok (Team recognize)
Guru kemudian mengumumkan kelompok yang menang, masing-masing team akan mendapat sertifikat atau hadiah apabila rata-rata skor memenuhi kriteria yang ditentukan. Team mendapat julukan “Super Team” jika rata-rata skor 45 atau lebih, “Great Team” apabila rata-rata mencapai 40-45 dan “Good Team” apabila rata-ratanya 30-40

Dari beberapa pendapat di atas dapat dikemukakan bahwa langkah-langkah dalam model pembelajaran kooperatif TGT adalah sebagai berikut:

1. Kelompok (Team)

* Membentuk kelompok yang terdiri dari 4 sampai 5 orang siswa yang anggotanya heterogen
* Memberitahu siswa tentang tugas yang harus dikerjakan oleh anggota kelompok.

2. Presentasi Kelas (Class Presentation)

* Menyampaiakan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai
* Menghimbau siswa bahwa materi yang disampaikan akan berguna pada saat game dan menentukan skor kelompok.
* Menyampaikan/mempresentasikan materi pelajaran di dalam kelas,

3. Permainan (Games)

* Memberikan game dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji pengetahuan yang didapat siswa dari penyajian materi.
* Memberikan game dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan dalam bentuk kartu indek
* Memberikan dan mengumpulkan skor kepada siswa yang menjawab benar.

4. Kompetisi (Turnamen)

* Membagi siswa ke dalam beberapa meja turnamen. Tiga siswa tertinggi prestasinya pada meja I, tiga siswa selanjutnya pada meja II dan seterusnya.
* Mengkoordinasikan jalannya turnamen dengan prosedur pelaksanaan.

5. Penghargaan (Team recognize)

* Mengumumkan hasil penilaian dari pengumpulan skor turnamen.
* Memberikan penghargaan terhadap usaha-usaha yang telah dilakukan oleh individu maupun oleh kelompok.

Baca juga info berikut ini ya, Beli property tanpa uang dan tanpa KPR dari Cipto Junaedy
thumbnail

18 Nilai-nilai dalam Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa

Nilai-nilai dalam Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa diidentifikasi dari sumber-sumber berikut ini.

1. Agama
Masyarakat Indonesia adalah masyarakat beragama. Oleh karena itu, kehidupan individu, masyarakat, dan bangsa selalu didasari pada ajaran agama dan kepercayaannya. Secara politis, kehidupan kenegaraan pun didasari pada
nilai-nilai yang berasal dari agama. Atas dasar pertimbangan itu, maka nilai-nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa harus didasarkan pada nilai-nilai dan kaidah yang berasal dari agama.
2. Pancasila
Negara kesatuan Republik Indonesia ditegakkan atas prinsip-prinsip kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang disebut Pancasila. Pancasila terdapat pada Pembukaan UUD 1945 dan dijabarkan lebih lanjut dalam pasal-pasal yang
terdapat dalam UUD 1945. Artinya, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila menjadi nilai-nilai yang mengatur kehidupan politik, hukum, ekonomi, kemasyarakatan, budaya, dan seni. Pendidikan budaya dan karakter bangsa
bertujuan mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang lebih baik, yaitu warga negara yang memiliki kemampuan, kemauan, dan menerapkan nilainilai Pancasila dalam kehidupannya sebagai warga negara.
3. Budaya
Sebagai suatu kebenaran bahwa tidak ada manusia yang hidup bermasyarakat yang tidak didasari oleh nilai-nilai budaya yang diakui masyarakat itu. Nilai-nilai budaya itu dijadikan dasar dalam pemberian makna terhadap suatu konsep dan arti dalam komunikasi antaranggota masyarakat itu. Posisi budaya yang demikian penting dalam kehidupan masyarakat mengharuskan budaya menjadi sumber nilai dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa.
4. Tujuan Pendidikan Nasional
Sebagai rumusan kualitas yang harus dimiliki setiap warga negara Indonesia, dikembangkan oleh berbagai satuan pendidikan di berbagai jenjang dan jalur. Tujuan pendidikan nasional memuat berbagai nilai kemanusiaan yang harus dimiliki warga negara Indonesia. Oleh karena itu, tujuan pendidikan nasional adalah sumber yang paling operasional dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa.
Berdasarkan keempat sumber nilai itu, teridentifikasi sejumlah nilai untuk pendidikan budaya dan karakter bangsa sebagai berikut ini :
1. Religius
Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
2. Jujur
Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
3. Toleransi
Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
4. Disiplin
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
5. Kerja Keras
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
6. Kreatif
Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
7. Mandiri
Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
8. Demokratis
Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
9. Rasa Ingin Tahu
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
10. Semangat Kebangsaan
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
11. Cinta Tanah Air
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
12. Menghargai Prestasi
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
13. Bersahabat/Komunikatif
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
14. Cinta Damai
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
15. Gemar Membaca
Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
16. Peduli Lingkungan
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
17. Peduli Sosial
Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
18. Tanggung Jawab
Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

Sumber: Bahan Pelatihan Penguatan Metodologi Pembelajaran Berdasarkan Nilai-nilai Budaya untuk Membentuk Daya Saing dan Karakter Bangsa, oleh Pusat Kurikulum Departemen Pendidikan Nasional, 2010

Baca juga info berikut ini ya, Beli property tanpa uang dan tanpa KPR dari Cipto Junaedy
thumbnail

MODEL PEMBELAJARAN TIME TOKEN

A. MODEL PEMBELAJARAN TIME TOKEN
Model pembelajaran Time Token Arends merupakan salah satu contoh kecil dari penerapan pembelajaran yang demokratis di sekolah. Proses pembelajaran yang demokratis adalah proses belajar yang menempatkan siswa sebagai subyek. Mereka harus mengalami sebuah perubahan ke arah yang lebih positif. Dari yang tidak bisa menjadi bisa, dari tidak paham menjadi paham, dan dari tidak tahu menjadi tahu. Di sepanjang proses belajar itu, aktivitas siswa menjadi titik perhatian utama. Dengan kata lain mereka selalu dilibatkan secara aktif. Guru dapat berperan untuk mengajak siswa mencari solusi bersama terhadap permasalahan yang ditemui.
Model ini digunakan (Arends, 1998) untuk melatih dan mengembangkan ketrampilan sosial agar siswa tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali. Guru memberi sejumlah kupon berbicara dengan waktu ± 30 detik per kupon pada tiap siswa. Sebelum berbicara, siswa menyerahkan kupon terlebih dahulu pada guru. Setiap tampil berbicara satu kupon. Siswa dapat tampil lagi setelah bergiliran dengan siswa lainnya. Siswa yang telah habis kuponnya tak boleh bicara lagi. Siswa yang masih memegang kupon harus bicara sampai semua kuponnya habis.

B. SINTAK MODEL PEMBELAJARAN TIME TOKEN ARENDS
Adapun sintak dari model pembelajaran Time Token Arends ini adalah sebagai berikut :
1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran/KD.
2. Guru mengkondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi klasikal.
3. Guru memberi tugas pada siswa.
4. Guru memberi sejumlah kupon berbicara dengan waktu ± 30 detik per kupon pada tiap siswa.
5. Guru meminta siswa menyerahkan kupon terlebih dahulu sebelum berbicara atau memberi komentar. Setiap tampil berbicara satu kupon. Siswa dapat tampil lagi setelah bergiliran dengan siswa lainnya. Siswa yang telah habis kuponnya tak boleh bicara lagi. Siswa yang masih memegang kupon harus bicara sampai semua kuponnya habis. Demikian seterusnya hingga semua anak berbicara.
6. Guru memberi sejumlah nilai sesuai waktu yang digunakan tiap siswa
(Pada RPP ini, tiap siswa maju ke depan untuk membacakan puisi secara bergiliran dan siswa yang lain mengomentari puisi yang dibaca siswa dengan menggunakan kupon berbicara)

C. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN MODEL PEMBELAJARAN TIME TOKEN ARENDS
Kelebihan Model Time Token Arends
- Mendorong siswa untuk meningkatkan inisiatif dan partisipasinya.
- Siswa tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali
- Siswa menjadi aktif dalam kegiatan pembelajaran
- Meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi (aspek berbicara)
- Melatih siswa untuk mengungkapkan pendapatnya.
- Menumbuhkan kebiasaan pada siswa untuk saling mendengarkan, berbagi, memberikan masukan dan keterbukaan terhadap kritik
- Mengajarkan siswa untuk menghargai pendapat orang lain.
- Guru dapat berperan untuk mengajak siswa mencari solusi bersama terhadap permasalahan yang ditemui.
- Tidak memerlukan banyak media pembelajaran.
Kekurangan Model Time Token Arends
- Hanya dapat digunakan untuk mata pelajaran tertentu saja.
- Tidak bisa digunakan pada kelas yang jumlah siswanya banyak.
- Memerlukan banyak waktu untuk persiapan dan dalam proses pembelajaran, karena semua siswa harus berbicara satu persatu sesuai jumlah kupon yang dimilikinya.
- Siswa yang aktif tidak bisa mendominasi dalam kegiatan pembelajaran

Model Pembelajaran Time Token sangat tepat untuk pembelajaran struktur yang dapat digunakan untuk mengajarkan keterampilan sosial, untuk menghindari siswa mendominasi pembicaraan atau siswa diam sama sekali.
Model pembelajaran time token adalah model pembelajaran yang digunakan dengan tujuan agar siswa aktif berbicara. Dalam pembelajaran diskusi, time token digunakan agar siswa aktif bertanya dalam berdiskusi. Dengan membatasi waktu berbicara misalnya 30 detik, diharapkan siswa secara adil mendapatkan kesempatan untuk berbicara.

D. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Time Token
Langkah-langkah pembelajarannya sebagai berikut :
1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran/KD.
2. Guru mengkondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi (cooperative learning / CL).
3. Tiap siswa diberi sejumlah kupon berbicara dengan waktu ± 30 detik per kupon. Tiap siswa diberi sejumlah nilai sesuai waktu yang digunakan.
4. Bila telah selesai bicara kupon yang dipegang siswa diserahkan. Setiap tampil berbicara satu kupon. Siswa dapat tampil lagi setelah bergiliran dengan siswa lainnya.
5. Siswa yang telah habis kuponnya tak boleh bicara lagi. Siswa yang masih memegang kupon harus bicara sampai semua kuponnya habis.
6. Demikian seterusnya.

http://wyw1d.wordpress.com/2009/11/14/model-pembelajaran-time-token-arends1998/
http://syariffauzan.blogspot.com/2011/11/model-pembelajaran-time-token-arends.html

Baca juga info berikut ini ya, Beli property tanpa uang dan tanpa KPR dari Cipto Junaedy
thumbnail

Model Pembelajaran Pair Check

A. Pengertian
Pair check (pasangan mengecek) adalah model pembelajaran berkelompok atau berpasangan yang dipopulerkan oleh Spencer Kagen tahun 1993. Model ini menerapkan pembelajaran berkelompok yang menuntut kemandirian dan kemampuan siswa dalam menyelesaikan persoalan yang diberikan. Banyak kelebihan maupun kelemahan.
Satu lagi Model Pembelajaran siswa berpasangan, yaitu Pair Check. Model pembelajaran ini juga untuk melatih rasa sosial siswa, kerja sama dan kemampuan memberi penilaian.
B. Sintaks model pembelajaran Pair Cheks
Sintaknya adalah sebagai berikut :
1. Siswa berkelompok berpasangan sebangku,
2. salah seorang menyajikan persoalan dan temannya mengerjakan,
3. pengecekan kebenaran jawaban,
4. bertukar peran,
4. penyimpulan,
5. evaluasi
6. refleksi.

Berikut ini sintak dari model pair check
1. Guru menjelaskan konsep
2. Siswa dibagi beberapa tim. Setiap tim terdiri dari 4 orang. Dalam satu ti ada 2 pasangan. Setiap pasangan dalam satu tim ada yang menjadi pelatih dan ada yang patner.
3. Guru membagikan soal kepada si patner
4. Patner menjawab soal , dan si pelatih bertugas mengecek jawabannya. Setiap soal yang benar pelatih memberi kupon.
5. Bertukar peran. Si pelatih menjadi patner dan si patner menjadi pelatih
6. Guru membagikan soal kepada si patner
7. Patner menjawab soal , dan si pelatih bertugas mengecek jawabannya. Setiap soal yang benar pelatih memberi kupon.
8. Setiap pasangan kembali ke tim awal dan mencocokkan jawaban satu sama lain.
9. Guru membimbing dan memberikan arahan atas jawaaban dari berbagai soal dan tim mengecek jawabannya.
10. Tim yang paling banyak mendapat kupon diberi hadiah


C. Langkah-langkah Pembelajarannya, sebagai berikut :
1). Bekerja Berpasangan
Guru membentuk tim berpasangan berjumlah 2 (dua) siswa. Setiap pasangan mengerjakan soal yang pas sebab semua itu akan membantu melatih siswa dalam menilai.
2). Pelatih Mengecek
Apabila patner benar pelatih memberi kupon.
3). Bertukar Peran
Seluruh patner bertukar peran dan mengulangi langkah 1 – 3.
4). Pasangan Mengecek
Seluruh pasangan tim kembali bersama dan membandingkan jawaban.
5). Penegasan Guru
Guru mengarahkan jawaban /ide sesuai konsep.
Demikianlah, mudah-mudahan postingan ini dapat menambah khasanah pembelajaran kita sehingga pembelajaran yang dirancang Bapak/Ibu Guru dapat lebih bervariatif, lebih bermakna, menantang sekaligus menyenangkan.
D. Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihannya
1. Dipandu belajar melalui bantuan rekan
2. Menciptakan saling kerjasama di antara siswa
3. Increases comprehension of concepts and/or processesMeningkatkan pemahaman konsep dan / atau proses
4. menmemenimelatih berkomunikasi
Kekurangannya
1. memerlukan banyak waktu
2. memerlukan pemahaman yang tinggi terhadap konsep untuk menjadi pelatih.


Dikutip dari :
http://wyw1d.wordpress.com/2009/11/14/model-pembelajaran-pair-checks-spencer-kagen1993/
http://syariffauzan.blogspot.com/2011/11/model-pembelajaran-pair-check.html
thumbnail

Contoh PTK Lomba Keberhasilan Guru Dalam Pembelajaran 2011

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI CIRI-CIRI KHUSUS PADA HEWAN MELALUI MODEL PEMBELAJARAN NHT( NUMBERED HEAD TOGETHER ) DI KELAS VI SDN TAMBAK SIRANG BARU KECAMATAN GAMBUT

OLEH : SAHRUDIN, S.Pd

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan adalah investasi jangka panjang yang memerlukan usaha dan dana yang cukup besar, hal ini diakui oleh semua orang atau suatu bangsa demi kelangsungan masa depannya. Demikian halnya dengan Indonesia menaruh harapan besar terhadap pendidikan dalam perkembangan masa depan bangsa ini, karena dari sanalah tunas muda harapan bangsa sebagai generasi penerus dibentuk.
Pendidikan menurut undang-undang sistem pendidikan nasional tahun 2003 adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara ( Depdiknas, 2007 : 3 ).
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab (Depdiknas, 2007 : 8).
Berbicara tentang pendidikan memiliki jangkauan dan kajian yang sangat luas, terutama menyangkut pembelajaran di sekolah. Sekolah dasar sebagai satuan pendidikan dasar memiliki fungsi dan peranan yang cukup penting dalam menentukan keberhasilan pendidikan ke jenjang berikutnya, karena materi yang diterima di sekolah dasar merupakan dasar-dasar pengetahuan, sikap keterampilan bagi jenjang pendidikan menengah. Materi tersebut diterima oleh anak didik melalui proses belajar mengajar.
Hamalik (2008 : 36) mengemukakan bahwa belajar adalah merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas daripada itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan perubahan kelakuan.
Menurut Djamarah (2000 : 15), belajar adalah perubahan dan tidak setiap perubahan adalah sebagai hasil belajar.
Moh. Surya dalam Akhmad Sudrajat (2008) menyatakan bahwa belajar dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya” (Sudrajat, 2008).
Menurut Djamarah (2006 : 37) kegiatan belajar mengajar adalah suatu kondisi yang dengan sengaja diciptakan. Guru lah yang menciptakannya guna membelajarkan anak didik.
Perkembangan Iptek (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) yang semakin maju berbagai permasalahan banyak yang muncul. Di sinilah guru sebagai ujung tombak pendidikan. Strategi pembelajaran seperti apa yang harus dilakukan guru. Bagaimana mengembangkan pembelajaran di sekolah dasar yang benar-benar mampu mengembangkan potensi siswa secara optimal sesuai dengan yang diharapkan. Mampukah guru mewujudkan pelajaran sebagai pelajaran yang tidak membuat siswa bosan tetapi menyenangkan bagi siswa. Guru memerlukan sarana dan prasarana yang konkret bagaimana sebaiknya mengelola kegiatan belajar mengajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) agar lebih bermakna.
Kenyataan yang ada di kelas VI SDN Tambak Sirang Baru Kecamatan Gambut pada materi ciri-ciri khusus pada hewan masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami materi tersebut. Hal ini dilihat dari nilai rata-rata ulangan harian di kelas VI SDN Tambak Sirang Baru Kecamatan Gambut yang hanya memperoleh 47,50 pada tahun ajaran 2010 / 2011. Nilai ini masih belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan sekolah yaitu 60,00.
Salah satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa ini adalah : guru, proses belajar yang monoton dan tidak menarik minat siswa dalam mengikuti pembelajaran. Siswa merasa bosan dan jenuh dalam proses belajar mengajar. Beberapa penyebab lainnnya adalah pembelajaran di sekolah khususnya, IPA lebih menekankan pada aspek kognitif saja dengan menggunakan hafalan dalam upaya menguasai ilmu pengetahuan, bukan mengembangkan keterampilan berpikir siswa, mengembangkan aktualisasi konsep dengan diimbangi pengalaman konkret dan aktivitas bereksperimen.
Hal demikian tidak bisa dibiarkan terus menerus, karena apabila dibiarkan berlarut-larut akan berakibat terhadap hasil belajar siswa dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di kelas VI SDN Tambak Sirang Baru Kecamatan Gambut menurun, jika hasil belajar siswa menurun maka akan berpengaruh terhadap mutu pendidikan di SDN Tambak Sirang Baru Kecamatan Gambut.
Melihat hal tersebut maka peneliti berusaha untuk mengatasi masalah ini dengan menggunakan model pembelajaran NHT (Numbered Head Together). Pembelajaran NHT (Numbered Head Together) merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik, sehingga diharapkan dapat membuat siswa antusias dalam mengikuti pembelajaran serta proses belajar mengajar tidak membosankan, dengan menggunakan model pembelajaran ini diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan aktivitas siswa menjadi lebih baik.
Menurut Slavin dalam Solihatin (2007 : 4) Cooperative Learning mengandung pengertian sebagai suatu sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu diantara sesama dalam struktur kerja sama dalam bekerja atau membantu diantara sesama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih dimana keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari setiap anggota kelompok itu sendiri.
Berdasarkan uraian diatas, maka penelitian tindakan kelas ini diberi judul :“Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada materi ciri-ciri khusus pada hewan melalui Model Pembelajaran NHT (Numbered Head Together) di Kelas VI SDN Tambak Sirang Baru Kecamatan Gambut“.

B. Ruang Lingkup
Ruang lingkup Penelitian Tindakan Kelas ini adalah penggunaan model pembelajaran NHT (Numbered Head Together) untuk meningkatkan hasil belajar siswa tentang materi ciri-ciri khusus pada hewan di kelas VI SDN Tambak Sirang Baru Kecamatan Gambut Kabupaten Banjar tahun pelajaran 2011 – 2012, dengan batasan-batasan sebagai berikut :
1. Mengacu pada Standar Kompetensi (SK) yang tertulis dala silabus yaitu : (1.) Memahami hubungan antara ciri-ciri makhluk hidup dengan lingkungan tempat hidupnya
2. Hanya dibatasi satu Kompetensi Dasar (KD) yaitu : (1.1) Mendeskripsikan hubungan antara ciri-ciri khusus yang dimiliki hewan (kelelawar, cicak, bebek) dan lingkungan hidupnya

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas dalam penelitian ini masalah dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Apakah dengan penggunaan model pembelajaran NHT (Numbered Head Together) dapat meningkatkan hasil belajar IPA tentang materi ciri-ciri khusus pada hewan di kelas VI SDN Tambak Sirang Baru Kecamatan Gambut ?.
2. Apakah dengan penggunaan model pembelajaran NHT (Numbered Head Together) dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran IPA tentang materi ciri-ciri khusus pada hewan di kelas VI SDN Tambak Sirang Baru Kecamatan Gambut ?.
3. Bagaimana penggunaan model pembelajaran NHT (Numbered Head Together) dapat meningkatkan aktivitas guru dalam melaksanakan pembelajaran IPA tentang materi ciri-ciri khusus pada hewan di kelas VI SDN Tambak Sirang Baru Kecamatan Gambut ?.

D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan pada hal tersebut diatas Penelitian Tindakan Kelas (PTK) bertujuan untuk mengetahui :
1. Hasil belajar siswa setelah selesai mempelajari materi pembelajaran yang dilaksanakan dengan menggunakan model pembelajaran NHT.
2. Aktivitas siswa selama berlangsungnya pembelajaran yang dilaksanakan dengan menggunakan model pembelajaran NHT.
3. Aktivitas guru dalam melaksanakan pembelajaran yang dilaksanakan dengan menggunakan model pembelajaran NHT.

E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan akan bermanfaat :
1. Bagi peserta didik, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai motivasi dalam meningkatkan minat dan kemampuan siswa.
2. Bagi guru, menambah kreativitas guru untuk menerapkan pembelajaran yang bervariasi dan menambah wawasan dalam menyelenggarakan proses pembelajaran dengan menggunakan berbagai model pembelajaran.
3. Bagi sekolah, memberi sumbangan pemikiran terhadap proses pembelajaran, sehingga dapat meningkatkan prestasi siswa dan kualitas sekolah semakin baik.
4. Bagi KKG/MGMP, menambah wawasan tentang model pembelajaran NHT (Numbered Head Together) dan dapat memberikan masukan pada forum KKG / MGMP.
5.
F. Sajian Definisi
1. Hasil belajar adalah kemampuan keterampilan, sikap dan keterampilan yang diperoleh siswa setelah ia menerima perlakuan yang diberikan oleh guru sehingga dapat mengkonstruksikan pengetahuan itu dalam kehidupan sehari-hari.
2. Model pembelajaran NHT (Numbered Head Together) merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik
3. Ciri-ciri khusus pada hewan, Setiap makhluk hidup mempunyai ciri-ciri khusus yang membedakannya dengan makhluk lain. Ciri-ciri khusus tersebut ada pada makhluk hidup untuk mempertahankan hidup di dalam

untuk Bab Selanjutnya masih dalam tahap upload...